Anak GTM: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya dengan Tepat

  • 28 Jul 2026 17:59 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Sumba - Gerakan Tutup Mulut (GTM) merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak menolak makan atau hanya mau makan dalam jumlah yang sangat sedikit. Kondisi ini cukup umum terjadi, terutama pada bayi yang sedang menjalani MPASI maupun balita.

Meski sering membuat orang tua khawatir, GTM sebenarnya dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan tidak selalu menandakan adanya penyakit serius. Yang terpenting adalah memahami penyebabnya agar penanganan yang dilakukan tepat.

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami GTM. Salah satunya adalah fase perkembangan, seperti tumbuh gigi yang membuat gusi terasa nyeri sehingga anak enggan mengunyah makanan. Selain itu, anak juga bisa kehilangan nafsu makan saat sedang demam, flu, sariawan, atau mengalami gangguan pencernaan.

Faktor psikologis, seperti bosan dengan menu yang itu-itu saja, suasana makan yang kurang menyenangkan, atau dipaksa makan, juga dapat memicu anak menolak makanan.

Jika GTM hanya berlangsung beberapa hari, umumnya kondisi ini tidak terlalu berbahaya.

Namun, apabila berlangsung dalam waktu yang lama, anak berisiko mengalami kekurangan asupan gizi yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya. Berat badan anak bisa sulit naik, daya tahan tubuh menurun, serta kebutuhan vitamin dan mineral tidak terpenuhi dengan baik. Oleh karena itu, orang tua perlu memantau kondisi anak secara berkala, termasuk berat badan dan aktivitas hariannya.

Mengatasi anak GTM memerlukan kesabaran dan pendekatan yang positif. Hindari memaksa anak untuk menghabiskan makanannya karena justru dapat membuatnya semakin menolak makan. Sebaiknya berikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, sajikan dengan tampilan yang menarik, serta variasikan menu agar anak tidak mudah bosan. Libatkan anak saat memilih atau menyiapkan makanan sesuai usianya agar ia lebih tertarik untuk mencicipinya.

Selain memperhatikan pola makan, orang tua juga perlu menciptakan suasana makan yang nyaman dan bebas dari distraksi, seperti televisi atau gawai. Jadikan waktu makan sebagai momen yang menyenangkan bersama keluarga. Pastikan anak tetap mendapatkan asupan cairan yang cukup dan hindari memberikan camilan atau minuman manis terlalu dekat dengan waktu makan karena dapat membuat anak cepat kenyang.

Apabila GTM berlangsung lebih dari dua minggu, disertai penurunan berat badan, anak tampak lemas, sering muntah, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter anak atau ahli gizi. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat masalah kesehatan yang mendasarinya. Dengan penanganan yang tepat serta dukungan orang tua yang sabar dan konsisten, sebagian besar anak dapat melewati fase GTM dan kembali memiliki pola makan yang sehat sehingga tumbuh kembangnya tetap optimal.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....