Apa Itu Frambosia? Kenali Gejala Penyakit Kulit Menular yang Kembali Jadi Sorotan

  • 30 Apr 2026 16:58 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Penyakit frambosia, atau yang secara medis dikenal sebagai yaws, belakangan ini kembali menjadi fokus utama Kementerian Kesehatan RI dalam upaya peningkatan standar kesehatan masyarakat.

Frambosia adalah infeksi tropis kronis yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum pertenue. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit "masa lalu," infeksi ini nyatanya masih ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di area dengan akses sanitasi yang terbatas dan tingkat kebersihan lingkungan yang rendah.

Penularan frambosia terjadi melalui kontak langsung antara kulit yang terluka dengan cairan dari luka (lesi) orang yang terinfeksi. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak usia di bawah 15 tahun yang sering bermain di lingkungan terbuka tanpa alas kaki atau perlindungan yang cukup.

Tanpa penanganan yang tepat, bakteri ini tidak hanya merusak jaringan kulit, tetapi dapat menyebar hingga menyerang jaringan lunak, tulang rawan, hingga struktur tulang penderita secara permanen.

Gejala awal frambosia ditandai dengan munculnya kutil atau luka terbuka yang tidak sakit pada permukaan kulit, yang sering disebut dengan istilah "mother yaw." Luka ini biasanya berbentuk menyerupai buah murbai (raspberry) dengan permukaan yang basah dan berkerak.

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, infeksi akan memasuki fase laten sebelum akhirnya berkembang menjadi stadium lanjut yang dapat menyebabkan kecacatan fisik, seperti kerusakan pada tulang hidung atau pembengkakan tulang panjang di kaki.

Upaya pencegahan frambosia sangat bergantung pada penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mencuci tangan dengan sabun, mandi secara rutin, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah mendasar untuk memutus rantai penularan.

Selain itu, kesadaran orang tua untuk segera memeriksakan anak jika muncul luka yang mencurigakan sangat krusial, mengingat penyakit ini sangat menular di lingkungan padat penduduk namun sangat mudah disembuhkan jika terdeteksi dini.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan target ambisius untuk mencapai eradikasi atau bebas frambosia sepenuhnya pada tahun 2030. Melalui pemberian obat pencegahan massal (POPM) menggunakan antibiotik dosis tunggal, diharapkan daerah-daerah endemis dapat segera pulih.

Dukungan masyarakat dalam melaporkan temuan kasus dan menjaga kebersihan komunal menjadi kunci utama agar penyakit ini benar-benar hilang dari tanah air. (RN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....