FoR PKBI NTT : Perempuan Memaknai Hari Kartini dengan Sadar Akan Tubuh dan HKSR

  • 23 Apr 2026 08:35 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Kartini pada Selasa, 21 April 2026 dimaknai berbeda oleh generasi muda di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui siaran Talk Space di Pro 2 RRI Kupang, Forum Remaja (FoR) PKBI NTT mengangkat isu penting dan relevan dengan momentum peringatan hari Kartini, yakni bagaimana perempuan masa kini lebih berdaya atas dirinya sendiri dan dapat mengenal tubuh dan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR).

Dua anggota FoR PKBI NTT Intan Soga dan Ira Folrati menegaskan Hari Kartini bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan refleksi perjuangan yang masih berlangsung. “Hari Kartini bukan hanya sekadar perayaan biasa,tapi kita mengingat bahwa perjuangan perempuan luar biasa di Indonesia, apalagi di NTT, masih berlangsung sampai saat ini,” ujar Intan dalam wawancara.

Baik Intan dan Ira memaknai makna peringatan Kartini di era masa kini sebagai proses yang terus berjalan. “Menjadi Kartini bukan berarti harus melakukan hal besar, tapi bisa dimulai dari hal kecil seperti mengembangkan potensi diri dan mengikuti kegiatan positif," ucap Ira.

Sementara, Intan menambahkan bahwa perempuan yang berani menyuarakan haknya adalah wujud nyata Kartini generasi sekarang. Dalam dialog, mereka juga menyuarakan isu emansipasi perempuan yang dikaitkan erat dengan HKSR.

Emansipasi itu kebebasan yang bertanggung jawab dan HKSR juga begitu, kita punya hak atas tubuh kita sendiri dan berhak mendapatkan informasi yang benar,” ujar Intan. Minimnya edukasi membuat banyak remaja belum sepenuhnya memahami hak atas tubuhnya sendiri.

Hal ini menjadi penting agar perempuan mampu mengambil keputusan atas hidupnya secara sadar dan aman terhadap dirinya sendiri di tengah masyarakat. Dengan adanya dukasi HKSR yang dimulai dari keluarga, sekolah hingga komunitas dinilai menjadi kunci untuk membangun kesadaran tersebut.

Fenomena kekerasan seksual yang masih marak turut menjadi sorotan dalam perbincangan tersebut. “Kekerasan seksual terhadap perempuan masih terjadi sampai saat ini… makanya kita harus tahu bahwa kita punya hak untuk tidak dilecehkan dan untuk menjaga diri kita,” ungkap Ira.

Namun, tantangan terbesar masih datang dari stigma sosial yang menganggap pembahasan tubuh sebagai hal tabu. “Masih banyak yang malu karena stigma sosial, padahal ketika kita berani bicara tentang tubuh kita, itu menunjukkan kita punya kendali atas hidup kita.” ucap Intan.

Diskusi ini juga menyentuh tantangan budaya patriarki di NTT yang sering kali masih mengekang kebebasan perempuan untuk berkembang dan menempuh pendidikan tinggi. Baik Intan maupun Ira sepakat bahwa adat istiadat tetap harus dihormati, namun tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi ruang gerak serta hak-hak dasar perempuan.

Selain perjuangan di ranah publik, kedua Kartini muda ini juga menyoroti pentingnya solidaritas antarperempuan melalui gerakan woman support woman. Mereka mengajak seluruh remaja perempuan untuk saling menguatkan, alih-alih saling mencibir atau menjatuhkan, demi terciptanya lingkungan yang positif bagi pertumbuhan potensi diri.

Melalui edukasi yang konsisten dari PKBI NTT, diharapkan pemahaman mengenai HKSR tidak lagi dianggap tabu oleh masyarakat luas. Dengan mengenal tubuh dan berdaya atas diri sendiri, perempuan Indonesia diharapkan mampu melanjutkan cita-cita luhur Raden Ajeng Kartini dalam balutan kemandirian dan kecerdasan di era digital.

Di akhir siaran, keduanya menyampaikan pesan inspiratif bagi perempuan muda Indonesia. “Teruslah menjadi perempuan yang berpikir maju, berani bersuara, dan tidak takut menjadi diri sendiri,” kata Intan, sementara Ira menambahkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil yang berdampak besar bagi kesadaran masyarakat. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....