Cuaca Ekstrem Tingkatkan Risiko Penyakit di NTT
- 17 Mar 2026 11:08 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Perubahan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Hujan dengan intensitas tinggi yang tiba-tiba berhenti dan disusul panas terik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai penyakit, mulai dari flu, batuk pilek, hingga penyakit menular yang berkaitan dengan lingkungan seperti demam berdarah dan diare.
Situasi cuaca ekstrem juga dapat menimbulkan genangan air maupun banjir yang berisiko meningkatkan penyebaran penyakit. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih waspada serta menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat, sekaligus memahami langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi.
Hal tersebut disampaikan oleh Jasintha I. G. W. Ngongo, Koordinator Surveilans pada Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam dialog Kupang Menyapa di Pro 1 Radio Republik Indonesia Kupang Selasa, 10 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat di 22 kabupaten/kota di NTT melalui sistem surveilans kesehatan.
Menurut Jasintha, pemantauan dilakukan melalui sistem kewaspadaan dini atau Surveilans Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yang menghimpun laporan rutin dari fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit. Melalui sistem tersebut, terdapat 24 jenis penyakit menular berpotensi wabah yang dipantau secara berkala, termasuk diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit lainnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, kasus demam berdarah di Kota Kupang menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hingga awal Maret 2026, jumlah kasus tercatat sebanyak 16 kasus dengan 55 suspek. Meski demikian, Jasintha mengingatkan bahwa beberapa wilayah di NTT masih menunjukkan peningkatan kasus sehingga tetap memerlukan kewaspadaan.
Di sisi lain, kasus diare akut justru menjadi perhatian karena jumlahnya cukup tinggi. Data surveilans menunjukkan terdapat sekitar 7.548 kasus diare akut di seluruh NTT sejak Januari hingga awal Maret 2026. Kota Kupang menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sekitar 1.450 kasus yang tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, terutama puskesmas.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan mendorong penanganan cepat melalui pemberian terapi oralit dan zinc bagi pasien diare, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan pemantauan kualitas air, pemeriksaan sanitasi lingkungan, hingga kaporisasi pada sumur warga guna mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air.
Jasintha mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem dengan menerapkan pola hidup sehat. Ia mengingatkan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, cukup beristirahat, serta menghindari paparan asap rokok. Dengan langkah-langkah tersebut, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus mencegah munculnya penyakit di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....