Produksi Kolagen Menurun Seiring Penuaan, Ahli Sarankan Pola Makan Sehat

  • 15 Mar 2026 04:44 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kolagen menjadi salah satu topik yang banyak dibicarakan dalam dunia kesehatan dan kecantikan. Protein yang dikenal penting bagi kesehatan kulit, rambut, kuku, tulang, dan persendian ini kini banyak dikonsumsi dalam bentuk suplemen.

Menurut natgeo, pada tahun 2025 masyarakat dunia menghabiskan sekitar 2 miliar dolar AS untuk membeli suplemen kolagen, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat. Meski popularitasnya terus naik, para ilmuwan menilai bahwa euforia terhadap suplemen kolagen saat ini masih lebih cepat berkembang dibandingkan bukti ilmiahnya.

Sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya potensi manfaat, namun masih banyak aspek yang perlu diteliti lebih lanjut. Kolagen merupakan protein paling melimpah dalam tubuh mamalia dan membentuk sekitar 30 persen dari total protein dalam tubuh manusia.

Ahli diet dari Cleveland Clinic Center for Human Nutrition, Julia Zumpano, menjelaskan bahwa kolagen menjadi komponen struktural penting yang menyusun kulit, ligamen, otot, tendon, tulang, pembuluh darah, hingga jaringan ikat lainnya. Struktur kolagen berbentuk heliks rangkap tiga yang terdiri dari tiga rantai asam amino yang saling terjalin kuat.

Hingga kini, para ilmuwan telah mengidentifikasi sedikitnya 28 jenis kolagen berdasarkan struktur dan lokasi dalam tubuh. Sekitar 90 persen kolagen tubuh merupakan kolagen tipe I yang banyak ditemukan pada kulit, tulang, tendon, dan ligamen.

Di dalam tubuh, kolagen diproduksi oleh sel khusus yang disebut fibroblas. Untuk menghasilkan kolagen, sel-sel ini membutuhkan berbagai nutrisi seperti vitamin C dan seng.

Fungsi utama kolagen adalah memberikan kekuatan, dukungan, dan struktur pada tubuh. Kolagen membantu menjaga elastisitas kulit, melindungi organ, mendukung pembekuan darah, serta membantu pertumbuhan sel kulit baru.

Namun seiring bertambahnya usia, produksi kolagen dalam tubuh terus menurun. Setelah usia 40 tahun, tubuh kehilangan sekitar 1 persen kolagen setiap tahun, bahkan pada usia 80 tahun, jumlah kolagen yang hilang dapat mencapai 75 persen.

Penurunan ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih kendur dan berkerut, serta meningkatkan risiko nyeri sendi akibat melemahnya tendon dan ligamen. Selain faktor usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet, serta pola makan tinggi gula juga diketahui dapat mempercepat kerusakan kolagen dalam tubuh.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap kolagen, pasar kini dipenuhi berbagai produk suplemen kolagen dalam bentuk pil, bubuk, minuman, hingga permen kenyal. Produk tersebut umumnya berasal dari sumber hewani seperti sapi, ikan, atau ayam, dan sering dilabeli sebagai kolagen tipe tertentu atau dalam bentuk “peptida kolagen” dan “kolagen terhidrolisis” yang diklaim lebih mudah diserap tubuh.

Namun perlu diketahui, sebagai suplemen makanan, produk kolagen tidak diatur seketat obat-obatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak mewajibkan peninjauan dan persetujuan keamanan maupun efektivitas suplemen sebelum dipasarkan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi suplemen kolagen dapat memberikan peningkatan moderat pada kesehatan kulit, seperti membantu mengurangi kerutan dan meningkatkan elastisitas serta hidrasi kulit. Namun para ahli menilai banyak studi masih berskala kecil dan sering melibatkan bahan tambahan lain yang juga dapat memengaruhi hasil penelitian.

Selain untuk kesehatan kulit, suplemen kolagen juga mulai diteliti terkait manfaatnya bagi kesehatan sendi. Beberapa penelitian pada atlet menunjukkan bahwa suplemen kolagen dapat membantu mengurangi nyeri sendi dan peradangan serta mempercepat pemulihan setelah cedera.

Sebuah studi tahun 2023 yang melibatkan orang dewasa berusia 40 hingga 60 tahun menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi kolagen terhidrolisis selama enam bulan melaporkan penurunan nyeri sendi yang lebih signifikan dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsinya. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memastikan efektivitas dan mekanisme kerja kolagen dalam tubuh.

Bagi masyarakat yang tidak ingin mengonsumsi suplemen, para ahli menyarankan untuk mendapatkan kolagen secara alami melalui makanan seperti daging, ayam, ikan, telur, dan kaldu tulang. Selain itu, nutrisi seperti vitamin C, seng, tembaga, serta asam amino prolin dan glisin juga penting untuk membantu tubuh memproduksi kolagen secara alami.

Para ahli menekankan bahwa menjaga pola makan sehat tetap menjadi cara terbaik untuk mendukung produksi kolagen tubuh. Suplemen kolagen bukanlah solusi instan atau “obat mujarab” untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....