Banyak Pasien Kanker Serviks Datang Stadium Lanjut

  • 05 Feb 2026 15:20 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-Tingginya jumlah pasien kanker serviks yang datang berobat dalam kondisi stadium lanjut masih menjadi persoalan serius di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini berdampak pada rendahnya angka ketahanan hidup serta meningkatnya risiko kematian akibat kanker leher rahim.

Staf SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, dr. Lambertus Bambang Tokan, M.Biomed, SpOG, menegaskan bahwa sebagian besar pasien kanker serviks yang ditangani di rumah sakit datang dalam kondisi stadium lanjut. “Pasien-pasien dengan kanker serviks itu datang ketika sudah pada tahap kanker yang stadium lanjut. Dimana angka ketahanan hidupnya itu sangat rendah,” kata dr. Lambertus.

Menurutnya, kanker serviks sebenarnya dapat dicegah dan dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan rutin. Pemeriksaan IVA, Pap Smear, maupun HPV DNA mampu mendeteksi lesi prakanker sebelum berkembang menjadi kanker invasif, Kamis (4/2/2026).

Pemeriksaan IVA dan Pap Smear dianjurkan dilakukan setiap tiga tahun bagi perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, sedangkan pemeriksaan HPV DNA dapat dilakukan setiap lima tahun. Pemeriksaan ini dapat diakses di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik.

Selain skrining, upaya pencegahan juga dilakukan melalui vaksinasi HPV sebagai pencegahan primer. Vaksin ini terutama dianjurkan bagi remaja putri yang belum melakukan kontak seksual, sebagai langkah efektif mencegah infeksi Human Papillomavirus penyebab utama kanker serviks.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Maria Elisabeth Anggreini, S.Farm., Apt, MPH, mengungkapkan bahwa kanker serviks merupakan kanker terbanyak kedua pada perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. “Sebagian besar perempuan yang menjalani skrining justru sudah berada pada kondisi lanjut. Sekitar 70 persen hasil skrining menunjukkan pasien datang ketika penyakit sudah cukup berat,” ujar Maria.

Ia menjelaskan, keterlambatan deteksi menyebabkan pasien membutuhkan penanganan medis yang lebih kompleks, biaya pengobatan yang tinggi, serta berisiko meningkatkan angka kematian. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting dalam pengendalian kanker serviks.

Pemerintah, melalui program eliminasi kanker serviks 2023–2030, menargetkan peningkatan cakupan vaksinasi dan skrining secara nasional. Diharapkan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, jumlah pasien kanker serviks yang datang dalam stadium lanjut dapat ditekan secara signifikan. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....