Kanker Serviks Masih Jadi Ancaman Serius Perempuan NTT

  • 05 Feb 2026 14:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kanker leher rahim atau kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyakit ini menempati peringkat keempat penyebab kesakitan perempuan di dunia dan peringkat kedua di Indonesia setelah kanker payudara.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Maria Elisabeth Anggreini, S.Farm., Apt, MPH, mengungkapkan bahwa kanker serviks menjadi perhatian besar karena sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut. “Data menunjukkan sekitar 70 persen perempuan yang telah menjalani skrining justru sudah berada pada kondisi yang cukup gawat, sehingga membutuhkan pengobatan serius dan berdampak pada meningkatnya angka kematian,” ujar Maria.

Ia menjelaskan, secara global WHO telah mengeluarkan seruan eliminasi kanker serviks sejak 2020, yang kemudian ditindaklanjuti Pemerintah Indonesia melalui Rencana Umum Eliminasi Kanker Serviks tahun 2023–2030. Menurut Maria, upaya pengendalian kanker serviks dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir, mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga paliatif.

Pada aspek promotif, Dinas Kesehatan gencar mengkampanyekan gaya hidup sehat melalui gerakan CERDIK, seperti cek kesehatan rutin, menjauhi rokok, olahraga teratur, pola makan seimbang, istirahat cukup, dan pengelolaan stres. Sementara itu, untuk upaya preventif dilakukan melalui deteksi dini atau skrining kanker serviks.

Sasaran utama skrining adalah perempuan yang sudah menikah atau pernah melakukan hubungan seksual, dengan metode pemeriksaan IVA, Pap Smear, maupun HPV DNA.

Hal senada disampaikan oleh dr. Lambertus Bambang Tokan, M.Biomed, SpOG, Staf SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. Ia menegaskan bahwa peningkatan kasus kanker serviks menjadi alasan utama pemerintah dan dunia internasional menargetkan eliminasi penyakit ini.

“Masalah terbesar yang kami temui adalah pasien datang sudah dalam stadium lanjut, sehingga angka ketahanan hidupnya sangat rendah,” kata dr. Lambertus.

Ia memaparkan, program eliminasi kanker serviks bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dilakukan melalui edukasi dan vaksinasi HPV, pencegahan sekunder melalui skrining seperti IVA, Pap Smear, dan HPV DNA, serta pencegahan tersier melalui pengobatan maksimal pada kasus kanker invasif.

Dr. Lambertus menambahkan, pemeriksaan IVA merupakan metode skrining yang murah, cepat, dan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik. Pemeriksaan IVA dan Pap Smear dianjurkan dilakukan setiap tiga tahun bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seksual, sedangkan pemeriksaan HPV DNA dapat dilakukan setiap lima tahun.

“Kalau ditemukan hasil IVA positif, terapi bisa langsung dilakukan saat itu juga, bahkan bisa dilanjutkan dengan vaksinasi. Jadi vaksinasi dan skrining harus berjalan bersamaan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya vaksin HPV sebagai pencegahan primer, terutama bagi remaja putri yang belum pernah melakukan kontak seksual. Target nasional mengacu pada WHO, yakni 90 persen remaja putri usia 15 tahun telah mendapatkan vaksin HPV.

Dengan deteksi dini dan vaksinasi yang optimal, diharapkan angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks di NTT dapat ditekan secara signifikan. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....