Olahraga Aerobik Rutin Bantu Otak Tetap Muda

  • 02 Feb 2026 09:49 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang: Berolahraga aerobik selama 150 menit setiap minggu ternyata tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran tubuh, tetapi juga mampu menjaga otak tetap awet muda dan pikiran lebih tajam hingga usia lanjut. Temuan ini terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan oleh AdventHealth Research Institute.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik aerobik teratur di usia awal hingga paruh baya berkaitan dengan kesehatan otak yang lebih baik di kemudian hari. Otak yang lebih “muda secara biologis” ini dikaitkan dengan kemampuan berpikir yang lebih tajam, daya ingat yang lebih kuat, serta kesejahteraan mental yang lebih baik.

Para peneliti menekankan bahwa usia awal hingga pertengahan dewasa merupakan fase penting, di mana pilihan gaya hidup sangat memengaruhi kesehatan otak jangka panjang. Masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan obesitas diketahui meningkatkan risiko demensia, sementara olahraga teratur dapat memberikan efek perlindungan bagi otak.

Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada kelompok usia lanjut. Akibatnya, pemahaman tentang bagaimana olahraga memengaruhi penuaan otak pada usia dewasa awal dan paruh baya masih terbatas.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya mengamati bagian otak tertentu, studi ini menggunakan pendekatan brain-predicted age difference (brain-PAD). Metode ini membandingkan usia kronologis seseorang dengan “usia biologis” otaknya, sehingga dapat menunjukkan apakah otak tampak lebih muda atau lebih tua dari usia sebenarnya.

Dalam studi eBACH, sebanyak 130 orang dewasa sehat berusia 26–58 tahun mengikuti uji coba selama 12 bulan. Peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yakni kelompok latihan aerobik intensitas sedang hingga tinggi dan kelompok kontrol yang hanya menerima informasi kesehatan.

Kelompok olahraga menjalani latihan sekitar 150 menit per minggu, termasuk dua sesi latihan terawasi masing-masing 60 menit serta latihan tambahan di rumah. Berbagai alat digunakan, seperti treadmill, sepeda statis, elliptical, stair climber, dan mesin dayung, dimana struktur otak peserta dipantau melalui pemindaian MRI, sementara kebugaran kardiorespirasi diukur dengan VO₂peak.

Hasilnya, setelah satu tahun, usia otak kelompok olahraga menurun sekitar 0,6 tahun, menandakan otak tampak lebih muda. Sebaliknya, otak kelompok kontrol justru tampak sedikit lebih tua, meskipun perubahannya tidak signifikan, secara keseluruhan, terdapat perbedaan hampir satu tahun yang menguntungkan peserta yang rutin berolahraga. 

“Meskipun perbedaannya kurang dari satu tahun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa setiap tambahan ‘tahun’ usia otak berkaitan dengan perbedaan kesehatan yang bermakna di usia lanjut,” ujar Dr. Kirk I. Erickson, penulis senior studi ini, seperti yang dikutip dari techexplorist.

Penelitian juga menemukan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi berkaitan dengan otak yang tampak lebih muda. Setiap peningkatan standar VO₂peak dikaitkan dengan usia otak yang hampir dua tahun lebih muda, temuan ini memperkuat bukti bahwa kebugaran kardiorespirasi berperan penting dalam melindungi otak dari penuaan.

Meski hasilnya menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar masih diperlukan untuk memahami sepenuhnya bagaimana olahraga aerobik memengaruhi penuaan otak pada usia awal hingga paruh baya. Temuan ini menegaskan kembali pentingnya aktivitas fisik teratur sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan otak dan kualitas hidup di masa depan. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....