Jurnalis NTT Dituntut Adaptif di tengah Perubahan Ekosistem Digital

  • 28 Sep 2026 18:07 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Perkembangan teknologi digital mengubah pola kerja jurnalistik karena informasi kini dapat datang dari berbagai sumber dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat jurnalis tidak hanya dituntut menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan verifikasi dan memberikan konteks kepada masyarakat.

Ketua KPID NTT, Kekson Fole Salukh, S. Tr. Par menilai perkembangan teknologi digital merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi jurnalis saat ini. “Saya melihat ini sebenarnya peluang juga bukan ancaman sih, tetapi kita harus beradaptasi dengan perkembangan digital hari ini,” ujar Kekson di Wawancara Kupang Pagi Ini, Senin, 28 September 2026.

Menurutnya, informasi yang beredar melalui media sosial dapat menjadi informasi awal bagi jurnalis untuk melakukan pendalaman lebih lanjut. Jurnalis dapat menghubungi pihak berwenang atau narasumber kompeten untuk memastikan kebenaran informasi sebelum diberitakan kepada masyarakat.

Kekson juga menyoroti pentingnya penerapan etika ketika menyajikan informasi mengenai kecelakaan, bencana, maupun peristiwa yang melibatkan korban. “Dalam dunia jurnalistik khususnya di media penyiaran itu ada etika-etika jurnalistiknya,” katanya melalui sambungan telpon.

Ia menegaskan jurnalis perlu menghormati korban dan tidak menyajikan gambar atau informasi secara vulgar, terutama dalam situasi bencana. “Kami mengimbau agar dalam menyajikan konten-konten itu wajib memberikan rasa empati kepada korban bencana,” ujar Kekson.

Di tengah penggunaan kecerdasan artifisial, Kekson mengatakan verifikasi dan keberimbangan tetap menjadi prinsip penting dalam menjaga akurasi pemberitaan. “Jangan menjadikan kecepatan sebagai sebuah alasan untuk mengabaikan kebenaran,” katanya, seraya menekankan pentingnya memeriksa sumber dan melakukan konfirmasi.

Kekson berharap jurnalis NTT mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik dan kebutuhan masyarakat terhadap informasi terpercaya. “Harus kuasai teknologinya tetapi jangan kehilangan jati diri jurnalistiknya,” ujarnya, mengingatkan jurnalis tidak sekadar menjadi yang pertama memberitakan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....