Suhu Laut Dunia Capai Rekor Terpanas untuk Bulan Juli 2026

  • 10 Agt 2026 13:38 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Suhu permukaan laut dunia di luar wilayah kutub mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juli 2026. Kondisi ini menjadi perhatian para ilmuwan di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Eropa.

Data layanan perubahan iklim Copernicus Uni Eropa menunjukkan, suhu permukaan laut rata-rata global di luar kawasan kutub pada Juli 2026 menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan tersebut. Rekor ini melampaui catatan sebelumnya yang terjadi pada Juli 2023.

Kenaikan suhu laut juga terjadi di kawasan Eropa. Suhu permukaan laut mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juli di sepanjang pantai Atlantik dan Mediterania bagian barat. Kondisi tersebut disertai gelombang panas laut yang tergolong parah di sejumlah perairan Eropa.

Rekor suhu laut tersebut terjadi bersamaan dengan periode panas ekstrem di daratan Eropa. Wilayah Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli yang disebut sebagai salah satu yang terpanas dalam catatan sejarah.

Panas yang berlangsung berkepanjangan turut meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama di kawasan Mediterania. Vegetasi yang mengering akibat suhu tinggi membuat sejumlah wilayah semakin rentan terhadap kebakaran.

Eropa Tengah juga menghadapi gelombang panas dengan rekor suhu nasional di beberapa negara, termasuk Austria dan Slovakia. Kondisi panas dan kering membuat ancaman kebakaran semakin meningkat.

Meski suhu permukaan laut mencapai rekor baru untuk Juli, suhu udara permukaan global pada Juli 2026 tercatat hanya sekitar 0,01 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan Juli 2024. Dengan selisih yang sangat tipis tersebut, para ilmuwan menempatkan Juli 2026 dan Juli 2024 sebagai bulan Juli terpanas kedua dalam catatan.

Copernicus juga mencatat bahwa dua bulan pertama musim panas 2026 menunjukkan kondisi panas yang luar biasa. Suhu rata-rata periode tersebut dilaporkan sekitar 2,79 derajat Celsius di atas kondisi normal, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat empat tahun lalu.

Ilmuwan iklim Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa menilai kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana perubahan iklim dapat memperkuat berbagai kejadian cuaca ekstrem secara bersamaan. Menurutnya, gelombang panas di daratan, suhu laut yang tinggi, kekeringan, serta kebakaran hutan dapat saling memperkuat dan menciptakan dampak yang semakin besar.

Menurut theguardian, rekor suhu laut dunia pada Juli 2026 kembali menjadi peringatan mengenai meningkatnya pemanasan sistem iklim bumi. Lautan menyerap sebagian besar kelebihan panas yang dihasilkan oleh pemanasan global, sehingga kenaikan suhu laut dapat memberikan dampak luas terhadap ekosistem laut, cuaca ekstrem, dan kehidupan masyarakat di wilayah pesisir. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....