Pemuda NTT Didorong Jadi Kreator AI
- 03 Agt 2026 07:03 WIB
- Kupang
RRI CO.ID, Kupang – Artificial Intelligence (AI) dinilai bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang harus dipahami dan dimanfaatkan secara bijak. Melihat perkembangan tersebut, Pemuda Katolik bersama Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) menginisiasi pelatihan 100 Champion AI dan Bioteknologi NTT untuk meningkatkan literasi digital sekaligus menyiapkan generasi muda menjadi kreator teknologi.
Kegiatan yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan ini bertujuan membangun pemahaman bahwa AI merupakan alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi, bukan menggantikan peran manusia.

Pendidik Jesica Solagrasia Bessie, S.Pd., M.Psi. mengatakan perkembangan AI tidak dapat dihindari karena telah masuk ke hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Karena itu, generasi muda perlu membekali diri dengan literasi digital agar mampu memanfaatkan AI secara tepat dan bertanggung jawab.
Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai pendukung proses berpikir manusia, bukan menjadi pengganti kemampuan intelektual. Ia mengingatkan agar mahasiswa maupun pelajar tidak menggunakan AI secara penuh tanpa melakukan verifikasi terhadap hasil yang diperoleh.
"AI hadir untuk membantu manusia, bukan menggantikan manusia. Kita tetap harus berpikir kritis dan menjadikan AI sebagai alat bantu dalam belajar maupun bekerja," ujarnya.
Jesica juga mengapresiasi kolaborasi Pemuda Katolik dan GAMKI yang menghadirkan pelatihan tersebut. Menurutnya, program itu menjadi ruang belajar yang penting bagi generasi muda untuk memahami penggunaan AI secara etis serta mengembangkan kemampuan menjadi kreator teknologi yang mampu mendukung pembangunan Nusa Tenggara Timur.
Senada dengan itu, perwakilan Pemuda Katolik Cabang Kota Kupang, Andreas Tadon Bota, menilai AI memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Dengan latar belakang di bidang teknologi informasi, ia menyebut AI tidak dapat bekerja tanpa peran manusia sehingga manfaatnya sangat bergantung pada kualitas pengguna.
Menurut Andreas, potensi ketergantungan terhadap AI dapat diminimalkan apabila generasi muda mampu mengelola penggunaannya secara bijak dan tidak mengabaikan kemampuan berpikir serta kreativitas. Ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang menciptakan inovasi, bukan sekadar menjadi pengguna.
"Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi tingkatkan kemampuan agar bisa menjadi produser atau kreator yang menghasilkan karya melalui pemanfaatan AI," katanya. Melalui program 100 Champion AI dan Bioteknologi NTT, penyelenggara berharap lahir generasi muda yang menguasai teknologi, memiliki etika digital, serta mampu menghadirkan inovasi berbasis Artificial Intelligence untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di Nusa Tenggara Timur dan Indonesia. (As)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....