Menyongsong Masa Depan Robotik: Dari Ruang Kelas ke Panggung Inovasi

  • 16 Apr 2026 14:07 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-Di Aula BPVP Kemnaker Kota Kupang, diskusi antusias pelajar berpadu dengan semangat yang tak biasa. Bukan sekadar workshop, tetapi sebuah langkah awal menuju masa depan: Robotics Workshop 2026 salah satu rangkaian kegiatan Robotic Competition and Expo 2026, ajang robotik pertama yang digagas untuk membuka jalan generasi muda Nusa Tenggara Timur memasuki era teknologi.

Di balik kegiatan ini, hadir sosok Erwin Alexander, Direktur PT Filosi Exider Inovasi sekaligus Founder Logosi Institute. Dengan nada serius namun penuh harapan, ia menceritakan alasan mengapa robotik harus dikenalkan sejak dini di NTT.

“Selama membangun industri teknologi, mencari SDM lokal yang siap kerja itu sulit. Banyak yang masih harus didatangkan dari luar. Ini yang ingin kita ubah,” ujarnya, Kamis 16 April 2026..

Bagi Erwin, tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi, tetapi soal akses dan kesempatan. Ia percaya bahwa anak-anak di NTT memiliki potensi besar, hanya saja belum cukup ruang untuk berkembang.

Karena itu, ia mendorong agar pendidikan teknologi, mulai dari coding, mekanika, hingga IoT, diperkenalkan sejak SD, SMP, hingga SMA. Ajang robotik ini pun lahir bukan hanya sebagai lomba, tetapi sebagai “wadah”.

Sebuah tempat di mana ide-ide kecil pelajar bisa tumbuh menjadi karya nyata. “Kalau hanya semangat tanpa wadah, itu akan hilang. Kita ingin mereka punya tempat untuk bertumbuh,” ujarnya menambahkan.

Program ini juga menjadi ruang kolaborasi lintas sektor: pemerintah daerah, kampus, komunitas, hingga lembaga pendidikan ikut terlibat. Sosialisasi telah dilakukan ke puluhan sekolah, dan workshop robotik digelar untuk membekali peserta sebelum kompetisi utama pada Mei 2026 mendatang.

Di antara peserta, seorang siswi dari SMAN 1 Kupang, Enggar Natania Londingkene, tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Untuknya, ini bukan sekadar lomba pertama, tetapi pengalaman yang membuka cara pandangnya tentang teknologi.

“Banyak ilmu baru tentang IoT, sensor digital, dan pertanian pintar. Ini sangat menarik dan membuka wawasan kami,” katanya.

Namun, di balik semangat itu, tantangan tetap ada. Mulai dari keterbatasan biaya hingga rasa takut untuk menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Meski begitu, ia dan timnya memilih untuk terus mencoba. “Kami berusaha semaksimal mungkin,” ujarnya singkat.

Ketua panitia kegiatan, Imo dari Logosi Institute, menegaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang sebagai fondasi awal ekosistem robotik di Kupang. Mulai dari SD hingga umum, semua diberi ruang untuk belajar dan berkompetisi.

“Kami sudah sosialisasi ke hampir 40 sekolah. Antusiasme awalnya rendah, tapi semakin ke sini meningkat pesat,” katanya.

Lebih dari sekadar lomba, semua KIT robotik disediakan oleh penyelenggara, sehingga peserta bisa fokus pada satu hal: belajar dan berkreasi. Harapannya sederhana namun besar, agar Kupang tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem inovasi Indonesia.

Di tengah keterbatasan dan tantangan, semangat itu tumbuh: dari ruang kelas di Kupang, generasi baru sedang belajar membangun masa depan mereka sendiri, dengan kabel, sensor, dan mimpi yang jauh lebih besar dari sekadar lomba. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....