Guru Besar Jadi Jembatan Ilmu dan Kebijakan Pemerintah

  • 08 Apr 2026 15:25 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pada pengukuhan dua akademisi yakni Prof. Dr. Jonathan Ebet Koehuan dan Prof. Dr. Beatrix Maureen Rehatta, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol (Purn). Dr Johni Asadoma, menegaskan peran strategis guru besar sebagai penghubung antara dunia akademik dan kebijakan pembangunan daerah.

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW), Rabu, 8 April 2026 di Kupang.

“Jabatan profesor bukan sekadar capaian akademik tertinggi, tetapi juga membawa tanggung jawab sosial yang besar dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan di NTT. Seorang guru besar tidak hanya bertugas mengajar di ruang kelas, tetapi juga harus mampu menjadi penasihat strategis bagi pemerintah daerah,” ujarnya.

Menurut Wagub, kondisi NTT sebagai wilayah kepulauan dengan karakteristik semi-arid dan keterbatasan sumber daya air di daratan, namun kaya akan potensi kelautan, membutuhkan pendekatan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi.

Di bidang teknik sumber daya alam dan lingkungan, pentingnya peran akademisi dalam merumuskan solusi atas persoalan kekeringan dan degradasi lahan yang selama ini menjadi tantangan utama di NTT.

Sementara itu, pada sektor kelautan, ia menilai pengelolaan sumber daya pesisir harus diarahkan pada konsep ekonomi biru (blue economy) yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Wagub mendorong penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan pembangunan berbasis data dan kajian ilmiah.

“Pemikiran para guru besar harus menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah agar setiap program memiliki dampak yang terukur dan berkelanjutan,” katanya.(VFZ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....