Undana Kukuhkan Tiga Guru Besar, Perkuat Peran Akademisi untuk Pembangunan NTT

  • 08 Apr 2026 14:34 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka pengukuhan tiga guru besar di Graha Cendana Rabu, 8 April 2026. Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kontribusi akademisi bagi pembangunan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tiga akademisi yang dikukuhkan yakni, Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. (Kepakaran Arsitektur dan Perilaku), Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si. (Kepakaran Reformasi Kebijakan dalam Pembangunan Kesehatan), dan Prof. Zakarias Seba Ngara, S.Si., M.Si., Ph.D. (Kepakaran Fisika Material).

Rektor Undana, Jefri S. Bale, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan ini menambah total guru besar Undana menjadi 79 orang. Ia juga menyoroti tantangan dunia pendidikan di era kecerdasan buatan (AI).

“Ketergantungan pada AI hanya membuat kita ‘menyewa kecerdasan’, bukan membangunnya. Di sinilah peran guru besar menjadi sangat penting sebagai pembentuk nalar kritis, pengalaman nyata, dan kecerdasan humanis,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa guru besar tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing nilai, empati, dan pengalaman hidup yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Rektor juga memaparkan kontribusi ketiga guru besar.

Prof. William Djani dinilai memiliki peran strategis dalam reformasi birokrasi dan kebijakan publik, khususnya dalam meningkatkan tata kelola pemerintahan yang responsif terhadap masyarakat.

Prof. Linda Fanggidae menghadirkan pendekatan arsitektur berbasis kemanusiaan, dengan mengangkat konsep lokal seperti kios tradisional sebagai ruang interaksi sosial.

Prof. Zakarias Seba Ngara mengembangkan riset inovatif pemanfaatan limbah organik menjadi material canggih yang berpotensi mendukung sektor pertanian dan teknologi.

Sementara itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Undana memiliki peran strategis sebagai pusat pemikiran (think tank) bagi pembangunan kawasan timur Indonesia. Menurutnya, tantangan geografis dan sosial ekonomi NTT membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai kemanusiaan.

“Kepakaran para guru besar ini sangat relevan untuk menjawab persoalan daerah, mulai dari pembangunan infrastruktur yang humanis, reformasi sistem kesehatan, hingga pengembangan teknologi berbasis sumber daya lokal,” katanya.

Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan akademisi untuk mendorong inovasi di berbagai sektor, termasuk energi terbarukan, pengentasan stunting, serta hilirisasi sumber daya alam. Gubernur juga menegaskan bahwa keberadaan guru besar tidak boleh hanya berada di “menara gading”, tetapi harus aktif terlibat dalam pembangunan masyarakat.

“Undana telah memiliki instrumen keilmuan yang kuat. Kini saatnya memperkuat sinergi antara kampus dan pemerintah untuk mewujudkan NTT yang maju, sehat, cerdas, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia turut menyinggung pentingnya penggunaan teknologi, termasuk AI, secara bijak agar tidak menggeser nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan dan kehidupan sosial. Pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik tertinggi bagi para profesor, tetapi juga simbol penguatan sumber daya manusia di NTT.

Dengan bertambahnya guru besar, Undana diharapkan semakin mampu melahirkan inovasi dan solusi nyata bagi berbagai tantangan pembangunan di wilayah kepulauan tersebut. Acara ditutup dengan ajakan bersama untuk membangun Undana dan NTT melalui kolaborasi semua pihak. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....