Sinergi Akademisi dan Pemerintah Atasi Ketertinggalan di Kupang
- 12 Feb 2026 16:32 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di balik angka-angka statistik tentang daerah tertinggal, ada wajah-wajah masyarakat yang setiap hari berharap perubahan. Bagi Pemerintah Kabupaten Kupang, status ketertinggalan bukan sekadar label administratif.
Ia adalah tantangan nyata yang dirasakan masyarakat—dari petani yang bergulat dengan hasil panen yang belum optimal, nelayan yang menghadapi keterbatasan teknologi, hingga pelaku usaha kecil yang membutuhkan pendampingan. Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang, Mateldius Sanam, saat rapat koordinasi bersdama Undana, Rabu, 11 Februari 2026 menyampaikan bahwa untuk keluar dari ketertinggalan, daerah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sentuhan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang terarah agar potensi yang ada benar-benar memberi dampak bagi kesejahteraan warga.
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Bupati Kupang dan Rektor Undana yang ditandatangani akhir 2025 lalu. Melalui kerja sama tersebut, penelitian dan pengabdian masyarakat akan diarahkan untuk menjawab kebutuhan riil di lapangan.
Wakil Rektor Bidang Akademik Undana Kupang, Annytha Detta, menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, hasil riset tidak boleh hanya tersimpan di rak perpustakaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi solusi konkret.
Sinergi ini melibatkan berbagai fakultas, mulai dari pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, kesehatan masyarakat, ekonomi dan bisnis, hingga sains dan teknik. Pendekatan lintas disiplin diharapkan mampu menyentuh persoalan dari berbagai sisi—produktivitas, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga teknologi tepat guna.
Bagi masyarakat Kabupaten Kupang, kolaborasi ini menjadi secercah harapan. Bahwa ketertinggalan bukanlah nasib yang harus diterima selamanya.
Dengan kerja bersama antara pemerintah dan akademisi, potensi yang selama ini tersembunyi bisa digali, dikembangkan, dan diubah menjadi kekuatan. Dari ruang rapat di Oelamasi, semangat itu mulai tumbuh: bahwa perubahan mungkin terjadi, ketika ilmu pengetahuan dan kebijakan berjalan beriringan demi masa depan Kupang yang lebih maju dan mandiri. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....