Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Bilingual Murid Tuli

  • 30 Jun 2026 22:22 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat komitmen mewujudkan pendidikan inklusif melalui peluncuran Program Pendidikan Bilingual untuk Murid Tuli. Program hasil kolaborasi dengan Pijar Foundation dan sejumlah mitra strategis ini diharapkan membuka akses belajar yang lebih setara bagi peserta didik Tuli di Indonesia.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan pendidikan bermutu harus dapat diakses seluruh anak tanpa memandang kondisi fisik, sensorik, intelektual, sosial, emosional, maupun psikologis.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, tandatangani kerjasama dengan pilar foundation

Menurutnya, layanan bagi murid Tuli bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian penting dari pembangunan ekosistem pendidikan nasional yang inklusif.

"Komitmen kami adalah mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Pemerintah berkewajiban memastikan ekosistem pendidikan Indonesia benar-benar inklusif," kata Fajar dalam peluncuran program di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Ia mengungkapkan, tren pendidikan inklusif di Indonesia terus meningkat. Dari lebih dari 381 ribu peserta didik berkebutuhan khusus, sekitar 217 ribu anak kini belajar di sekolah reguler penyelenggara pendidikan inklusif.

"Data ini menunjukkan Indonesia sedang bergerak menuju paradigma pendidikan yang inklusif, bukan segregatif," ujarnya.

Dalam implementasinya, Pijar Foundation mengembangkan model pembelajaran bilingual yang mengintegrasikan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan bahasa Indonesia tulis dan lisan. Pendekatan tersebut diyakini mampu meningkatkan pemahaman materi, kemampuan berpikir, sekaligus keterampilan berkomunikasi murid Tuli.

Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, mengatakan pengakuan terhadap bahasa isyarat menjadi fondasi penting agar murid Tuli memperoleh kesempatan belajar yang setara dan mampu mengembangkan potensinya secara optimal.

Sementara itu, Ketua Tim Kurikulum dan Peneliti Bahasa Isyarat Pijar Foundation, Adhi Kusumo Bharoto, mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap ketulian sebagai bagian dari keberagaman manusia, bukan sebagai kekurangan.

Dukungan internasional juga menguatkan inisiatif tersebut. Executive Director The Nippon Foundation, Ichiro Kabasawa, membagikan pengalaman sejumlah negara Asia Tenggara yang berhasil menerapkan pendidikan bilingual bagi murid Tuli hingga melahirkan lulusan yang mandiri dan mampu menjadi pemimpin di komunitasnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menilai kolaborasi pemerintah, lembaga filantropi, dan masyarakat sipil menjadi kunci memperluas akses pendidikan inklusif di Indonesia.

Ia menyebut penandatanganan kerja sama tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen bersama untuk memastikan anak-anak Tuli memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi bangsa.

Program Pendidikan Bilingual untuk Murid Tuli menjadi salah satu langkah strategis Kemendikdasmen dalam memperkuat transformasi pendidikan inklusif sekaligus memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. (As)/humaskemendikdasmen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....