Sineas NTT Dobrak Panggung Nasional, Angkat Budaya dan Isu Sosial Lewat Film Lokal

  • 01 Apr 2026 09:12 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Industri perfilman di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam lima belas tahun terakhir menunjukkan perkembangan signifikan dan mulai menempatkan daerah ini sebagai bagian penting dalam peta perfilman nasional. Para sineas lokal kini tidak hanya berkarya, tetapi juga aktif memperjuangkan identitas budaya serta menyuarakan isu sosial melalui medium film.

Filmmaker asal Kupang, Vickram Sombu dalam Wawancara Kupang Pagi Ini Senin, 30 Maret 2026 mengungkapkan bahwa perhatian pemerintah pusat, khususnya kementerian terkait, mulai bergeser ke wilayah timur Indonesia. “Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal yang beragam kepada khalayak yang lebih luas,” katanya.

Meski jumlah komunitas film di NTT belum sebanyak di Pulau Jawa, semangat dan militansi sineas muda dinilai sangat kuat. Mereka terus belajar dan berproses untuk menghasilkan karya berkualitas, bahkan mulai mengemas budaya lokal dengan pendekatan yang lebih relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Salah satu pendekatan kreatif tersebut terlihat dalam penggunaan simbol budaya “Oko Mama” dalam sebuah film terbaru. Simbol ini tidak hanya ditampilkan sebagai identitas budaya, tetapi juga menjadi medium kritik sosial, seperti menggambarkan kasus kekerasan seksual dan perdagangan orang yang masih menjadi persoalan di masyarakat.

Prestasi membanggakan pun berhasil diraih sineas NTT melalui film dokumenter berjudul “CIE” yang sukses meraih Piala Citra pada ajang Festival Film Indonesia tahun lalu. “Capaian ini menjadi bukti bahwa kualitas karya sineas daerah mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Vickram bangga.

Namun demikian, menurut Vikram, para filmmaker di NTT masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan akses produksi berskala besar dan minimnya institusi pendidikan formal di bidang sinematografi. Kondisi ini membuat banyak sineas belajar secara otodidak, dengan ruang produksi sebagai laboratorium utama mereka.

Dari sisi pendanaan, Vickram mengatakan industri film lokal masih bergantung pada dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata. Program bantuan yang tersedia umumnya melalui proses seleksi yang ketat dan kompetitif. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat lebih serius melihat potensi ekonomi kreatif ini, termasuk melalui penyelenggaraan festival film tingkat nasional di NTT.

Peran generasi muda juga menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri ini. Dukungan sederhana seperti menonton dan mengapresiasi karya film lokal dinilai dapat memperkuat ekosistem perfilman daerah sekaligus memperkenalkan identitas budaya kepada generasi masa kini.

Ke depan, Vikram berharap hubungan antara sineas dan penonton semakin kuat sehingga industri film di NTT dapat terus berkembang hingga menembus pasar internasional. Semangat para sineas di tengah keterbatasan menjadi modal utama untuk mewujudkan industri film daerah yang mandiri, berdaya saing, dan penuh prestasi. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....