"Di Bawah Langit yang Tak Terpasung", Suara Mahasiswi Kupang Lawan Tekanan Digital
- 12 Apr 2026 13:17 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Sosok Juveren Maryenda Rina Selan, mahasiswi semester 4 Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang, membuktikan bahwa dedikasi di dunia medis tidak menghalangi kreativitas untuk bersinar di panggung sastra nasional. Terbukti, ia berhasil meraih predikat Juara Harapan 1 dalam ajang Menulis Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Lomba Kesenian Nasional bersama Penerbit Aksara Pilar Nusantara pada 21 Februari 2026.
Prestasi ini menjadi catatan gemilang bagi Veren yang sebelumnya juga sukses di bidang desain poster kesehatan tingkat nasional pada 2025. Lewat puisinya yang berjudul "Di Bawah Langit yang Tak Terpasung", Veren menuangkan keresahan anak muda tentang tekanan ekspektasi di era digital dan pentingnya jati diri.
Menurutnya, ide puisi lahir dari refleksi pribadi sekaligus fenomena yang banyak terjadi di kalangan generasi muda. Ia melihat bahwa banyak anak muda terjebak dalam standar media sosial, sehingga kehilangan jati diri dan arah hidup.
“Tema bebas itu memberi ruang bagi saya untuk mengekspresikan kebebasan. Kita tidak perlu hidup berdasarkan tanggapan orang lain, tetapi bisa menjadi diri sendiri dan berkembang sesuai dengan prinsip kita,” ungkap Veren saat berbagi kisah kemenangannya pada Sabtu, 11 April 2026 di RRI Pro 2 Kupang.

Ia mengaku proses penulisan puisi membutuhkan waktu yang cukup panjang karena harus menyusun makna yang mendalam dalam setiap bait. Baginya, puisi bukan sekadar tulisan, tetapi media untuk menyampaikan pesan dan pengalaman hidup secara jujur.
"Berdiri di podium juara dari dua bidang yang sangat berbeda ini menjadi pengalaman berharga bagi saya," ujarnya. Baginya, menulis puisi adalah ruang untuk mengekspresikan pikiran dengan jujur di tengah kesibukan kuliah keperawatan yang cukup padat.
Meski bercita-cita menjadi perawat, Veren melihat seni sebagai alat edukasi yang ampuh untuk menyentuh hati masyarakat. Sejalan dengan latar belakang medisnya, ia kerap memadukan estetika desain dengan pesan-pesan kesehatan agar informasi medis yang rumit menjadi lebih mudah dipahami oleh orang awam.
Dukungan penuh dari orang tua, terutama sang Ibu yang telah memperkenalkannya pada puisi sejak kecil, menjadi motor penggerak utama prestasinya. Konsistensi dalam manajemen waktu antara tugas praktik keperawatan dan hobi menulis adalah kunci keberhasilannya menjaga keseimbangan akademik dan kreativitas.
Kemenangan ini diharapkan mampu memotivasi mahasiswa kesehatan lain untuk berani mengeksplorasi potensi di luar bidang sains. "Kita harus berani bertumbuh dan memiliki prinsip sendiri agar bisa berkembang tanpa harus terbelenggu oleh pandangan orang lain," katanya mengakhiri, dengan penuh semangat. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....