UMKM NTT Didorong Naik Kelas melalui Konten Digital dan Akses Pembiayaan KUR

  • 06 Okt 2026 14:31 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Produk yang berkualitas perlu ditemukan, dikenal, dan dipercaya konsumen. Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin banyak mencari informasi dan bertransaksi melalui kanal digital, kemampuan memasarkan produk secara kreatif menjadi bagian penting dari daya saing usaha.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus Workshop Pembuatan Konten Digital Produk UMKM dan Fasilitasi Pembiayaan KUR dan UMi yang diselenggarakan Kanwil DJPb Provinsi Nusa Tenggara Timur di Aula Sumba, GKN Kupang Lantai 1, Kamis 1 Oktober 2026. Kegiatan bertema “UMKM Paham Digital dan Raih Pembiayaan, Wujudkan UMKM NTT Naik Kelas”ini melibatkan 25 pelaku UMKM di Kota/Kabupaten Kupang, baik UMKM binaan maupun nonbinaan.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas UMKM dari dua sisi yang saling melengkapi, yakni kemampuan memasarkan produk melalui kanal digital dan kesiapan mengakses pembiayaan produktif. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya mampu memperluas jangkauan pasar, tetapi juga memiliki dukungan permodalan untuk memenuhi kebutuhan usaha ketika permintaan meningkat.

Dalam sesi pembuatan konten digital, Hani Kusuma Intani, konten kreator @kupang.foodies, mengajak pelaku UMKM melihat konten sebagai bagian dari strategi pemasaran yang dapat membantu produk lebih mudah ditemukan dan dikenal konsumen. Menurut Hani, promosi di media sosial tidak selalu harus dilakukan dengan cara hard selling.

Produk dapat diperkenalkan secara lebih halus melalui kekuatan visual, cerita yang relevan, pengalaman penggunaan, testimoni pelanggan, hingga proses di balik pembuatan produk. Bagi pelaku usaha kuliner, misalnya, sebuah produk tidak hanya dapat ditampilkan melalui foto makanan.

Daya tarik visual, suasana tempat, proses memasak, tekstur makanan, pengalaman mencicipi, hingga cerita di balik sebuah menu dapat menjadi materi konten yang membuat calon konsumen tertarik sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk membeli. “Konten tidak harus selalu mengatakan ayo beli!,” ujar Hani.

“Kita bisa membuat orang tertarik dulu melalui visual, cerita, pengalaman, atau informasi yang memang mereka butuhkan. Ketika kontennya terasa natural dan relevan, promosi bisa berjalan tanpa terasa seperti sedang berjualan,” ucap Hani.

Pendekatan serupa juga dapat diterapkan pada berbagai produk UMKM lainnya. Produk berbasis budaya seperti tenun NTT, misalnya, dapat dikemas melalui cerita mengenai motif, warna, proses pewarnaan, teknik menenun maupun filosofi yang terkandung di dalamnya.

Dengan begitu, produk tidak hanya dilihat sebagai barang, tetapi juga sebagai bagian dari cerita, identitas dan nilai budaya. Selain kemampuan membuat konten, pelaku UMKM juga perlu memahami pentingnya content planning.

Konten dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari edukasi, cerita di balik produk, testimoni pelanggan, proses produksi, behind the scenes, tips penggunaan, hingga konten yang mengangkat budaya dan potensi lokal. (rls/at)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....