Bag - Us Angkat Tenun Lokal lewat Fashion

  • 05 Mei 2026 13:51 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Tenun khas Nusa Tenggara Timur tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga terus berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi. Melalui sentuhan desain yang lebih dekat dengan kebutuhan pasar, Bag-Us menghadirkan tenun lokal dalam bentuk tas yang memadukan fungsi, estetika, dan nilai budaya.

Flora Bere Leki, pemilik Bag-Us, dalam program Obrolan Teras UMKM di RRI Kupang, Selasa, 5 Mei 2026, mengatakan usaha tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap potensi tenun NTT yang besar, tetapi belum sepenuhnya memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi para penenun.

Menurut Flora, selama ini kain tenun masih lebih sering dijual sebagai produk mentah sehingga nilai tambah yang diterima para penenun relatif terbatas. Di sisi lain, ia juga melihat banyak perempuan muda lulusan sekolah kejuruan di NTT yang memiliki keterampilan menjahit dan produksi, namun belum memperoleh lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensinya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Bag-Us hadir sebagai penghubung antara kelompok penenun dengan perempuan muda yang memiliki keterampilan kerja. Melalui usaha itu, kain tenun diolah langsung di daerah asalnya menjadi produk bernilai tambah, sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

Flora menjelaskan, nama Bag-Us mengandung filosofi kebersamaan. Kata “bag” merujuk pada tas sebagai produk utama, sedangkan “us” dimaknai sebagai “kita”, yang mencerminkan semangat dari kita, oleh kita, dan untuk kita.

Menurut dia, filosofi tersebut diwujudkan dengan melibatkan banyak pihak dalam satu rantai produksi, mulai dari penenun, perancang desain, pekerja kreatif, hingga konsumen. Karena itu, setiap produk Bag-Us tidak hanya diposisikan sebagai barang pakai, tetapi juga membawa cerita tentang kerja bersama dan warisan budaya.

Saat ini, Bag-Us memfokuskan produksi pada tas berbahan tenun khas NTT. Model bucket bag atau tas serut menjadi produk yang paling diminati konsumen. Selain itu, tersedia pula berbagai jenis pouch, clutch, dan laptop case yang disebut telah mendapat respons positif dari pasar.

Seluruh produk tersebut menggunakan balutan tenun NTT dengan beragam motif dan warna. Menurut Flora, saat ini motif tenun dari wilayah Belu menjadi salah satu yang paling banyak dicari pembeli karena memiliki karakter motif yang khas serta perpaduan warna yang dinilai cocok dengan desain modern.

Tidak hanya menonjolkan kualitas dan keindahan, Bag-Us juga menerapkan prinsip zero waste dalam proses produksinya. Flora mengatakan, pihaknya berupaya memastikan sisa bahan produksi tidak terbuang menjadi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Sisa potongan tenun dan kulit diolah kembali menjadi berbagai produk turunan seperti kotak pensil dan aksesori. Selain itu, Bag-Us juga bekerja sama dengan kelompok penganyam lokal yang memproduksi kemasan dari daun lontar. Untuk setiap pembelian di atas Rp700 ribu, konsumen akan memperoleh kemasan anyaman daun lontar dengan pegangan yang dibuat dari sisa bahan kulit.

Menurut Flora, produk-produk Bag-Us juga dirancang agar tahan lama. Ia menjelaskan, bahan tenun memiliki serat yang kuat sehingga tidak mudah rusak dan tetap nyaman digunakan dalam jangka waktu panjang.

Di akhir perbincangan, Flora menegaskan bahwa Bag-Us tidak hanya menjual produk, tetapi juga berupaya menghadirkan dampak sosial. Selain membuka ruang kerja bagi perempuan muda, usaha ini juga diharapkan menjaga keberlanjutan warisan tenun NTT serta meningkatkan nilai tambah kain tenun melalui proses produksi yang dilakukan langsung di tanah asalnya. (TT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....