UMKM Tahu Bintang di Kota Kupang, Fokus Perkenalan Produk dan Berdayakan 30 Pekerja

  • 24 Feb 2026 11:05 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) olahan tahu cukup banyak dijumpai di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah persaingan tersebut, UMKM Tahu Bintang milik Narti Bintang hadir dengan menawarkan variasi produk yang lebih beragam dibandingkan tahu pada umumnya.

Sekitar tiga tahun terakhir, Narti menekuni usaha aneka olahan tahu. Ia tidak hanya menjual tahu putih, tetapi juga menghadirkan berbagai jenis tahu seperti tahu susu, tahu sumedang, tahu kuning, tahu Kediri, hingga tahu bakso dengan beragam pilihan isi. “Mau tahu apa saja di saya ada. Tahu bakso ayam, bakso sapi, yang pedas, yang original, semua ada,” ujarnya.

Seluruh proses produksi dilakukan sendiri, mulai dari pengolahan kedelai hingga menjadi tahu siap jual. Untuk produk tahu isi, ia juga menyediakan dalam bentuk beku (frozen) agar pelanggan dapat menggorengnya sendiri di rumah. “Kalau yang jauh mau goreng sendiri anget-anget, kita jual frozen. Tinggal goreng pakai tepung saja sudah jadi,” katanya menjelaskan.

Meski sudah cukup lama berjualan, Narti mengaku baru sekitar dua hingga tiga tahun terakhir aktif mengikuti kegiatan-kegiatan UMKM, termasuk Car Free Day (CFD). Menurutnya, keikutsertaan dalam berbagai event menjadi langkah penting untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat luas. “Laku nggak laku itu nomor sekian. Yang penting mampang dulu, memperkenalkan produk,” katanya.

Dari kegiatan CFD, omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar lima juta rupiah, bahkan hingga delapan juta rupiah saat pengunjung ramai. Namun, ia menegaskan bahwa pendapatan tersebut tidak menentu karena sangat bergantung pada jumlah dan jenis kegiatan yang diikuti. “Tidak pasti, tergantung kegiatan. Yang penting kita hadir,” ucapnya.

Dalam menjalankan usahanya, Narti juga melibatkan sekitar 30 karyawan di tempat produksinya. Jumlah tersebut cukup besar untuk skala UMKM yang masih tergolong baru. “Ada tiga puluhan karyawan. Lumayan juga bisa mengaryakan, walaupun masih skala kecil,” ujarnya.

Kendala utama yang sering dihadapi adalah fluktuasi harga kedelai sebagai bahan baku utama. Ketika harga kedelai naik, ia harus menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan. “Kedelai itu kalau mahal ya sudah, berarti harga ikut naik. Kita tidak bisa berpura-pura. Saingan banyak juga, jadi harus ikut pasar,” katanya.

Meski menghadapi tantangan harga bahan baku dan persaingan pasar, Narti berusaha menjaga kestabilan usaha agar tetap bisa memenuhi kebutuhan operasional, termasuk menggaji karyawan. “Yang penting bisa untuk gajian anak-anak,” katanya.

Ke depan, Narti berharap UMKM Tahu Bintang semakin dikenal masyarakat, baik di dalam maupun di luar Kota Kupang. Ia juga berharap kegiatan-kegiatan yang melibatkan UMKM dapat lebih sering digelar sehingga pelaku usaha kecil memiliki ruang untuk mempromosikan produknya. “Sering-sering dipanggil, sering-sering dibuat event. Itu sudah lebih dari cukup buat kami,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....