Kolaborasi dan Edukasi Jadi Kunci Ekonomi Sirkular di Kota Kupang
- 16 Sep 2026 23:00 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Mengubah kebiasaan masyarakat dari sekadar membuang menjadi memilah sampah bukanlah perkara mudah. Untuk membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Kota Kupang, dibutuhkan pendampingan yang konsisten serta sinergi erat antara warga, pemerintah, dan dunia usaha.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Bank Sampah Mutiara Timor, Meilsi Mansula, saat menjadi narasumber dalam dialog Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang pada Selasa, 15 September 2026.
Melzi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi di lapangan adalah melepaskan stigma masyarakat yang menganggap pemilahan sampah sebagai pekerjaan pemulung atau sebatas tugas pemerintah semata.
"Mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan tahun membutuhkan waktu setidaknya 3 hingga 6 bulan pendampingan intensif. Kami harus menyakinkan warga bahwa sampah jika dipilah dari rumah tidak akan berbau dan justru memberikan manfaat," kata Melzi.
Melzi menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ekonomi sirkular hanya dapat berjalan jika setiap elemen mengambil peran sesuai kewenangannya:
- Pihak StakeholderPeran Kunci dalam Ekosistem SampahMasyarakat : Mengurangi sampah dari sumbernya serta memilah sampah anorganik dan organik dari rumah.
- Pemerintah : Menyusun kebijakan tegas, memperkuat infrastruktur sarana-prasarana, dan mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah yang memadai.
- Produsen & Dunia Usaha : Menggunakan kemasan ramah lingkungan yang mudah didaur ulang serta menyalurkan CSR untuk fasilitas pengelolaan limbah.
- Komunitas / Bank Sampah : Mengedukasi, mendampingi warga di akar rumput, serta menyerap sampah terpilah untuk masuk ke rantai daur ulang.
Saat ini, Bank Sampah Mutiara Timor telah membina jaringan di 39 titik mitra pada 19 kelurahan di Kota Kupang. Bahkan, praktik edukasi dan pemilahan sampah berbasis komunitas di Kupang ini menarik perhatian institusi pendidikan dari Singapura yang dijadwalkan datang belajar pada Maret mendatang.
Melzi berharap kebiasaan memilah sampah dapat dijadikan teladan hidup sehari-hari demi menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak cucu di masa depan.
"Apa yang kita lakukan hari ini bukan hanya soal kebersihan atau ekonomi saat ini, tetapi tentang warisan karakter dan lingkungan yang layak bagi generasi mendatang," pungkasnya. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....