KADIN NTT Dorong FTZ dan Ekonomi Lintas Batas

  • 17 Sep 2026 07:30 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong percepatan pembentukan Free Trade Zone (FTZ) sebagai strategi membuka lompatan ekonomi baru berbasis perdagangan, investasi, dan industri lintas batas antara NTT dan Timor-Leste.

Ketua KADIN NTT Bobby Lianto, M.M., MBA, Selasa, 15 September 2026 mengatakan posisi geografis NTT sebagai pintu gerbang selatan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan Australia harus dimanfaatkan sebagai kekuatan ekonomi strategis.

Focus Group Discussion (FGD) membangun ekosistem perdagangan bebas, investasi, dan industri lintas batas NTT–Timor-Leste yang berdaya saing dan berkelanjutan, di Kupang. (Foto: RRI/Alfred)

Hal tersebut disampaikan Bobby dalam Focus Group Discussion (FGD) membangun ekosistem perdagangan bebas, investasi, dan industri lintas batas NTT–Timor-Leste yang berdaya saing dan berkelanjutan, di Kupang.

Menurut Bobby, NTT tidak cukup hanya mengembangkan sektor UMKM dan mendorong ekspor produk lokal. Diperlukan kebijakan kawasan yang mampu menciptakan konektivitas perdagangan dan investasi dalam skala regional.

“Kalau kita ingin mengalami lompatan kuantum ekonomi, satu-satunya yang harus kita manfaatkan adalah posisi letak kita yang strategis sebagai pintu gerbang selatan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan Australia,” kata Bobby.

Ia menyebut konsep pengembangan ekonomi lintas batas NTT dapat mengambil pembelajaran dari Batam–Singapura–Johor, sekaligus membangun model baru melalui konektivitas Kupang–Dili–Darwin.

Bobby mengusulkan agar kerja sama ekonomi tidak berhenti pada perdagangan antardaerah atau antarnegara, tetapi diarahkan pada integrasi rantai pasok, produksi, investasi, hingga pemasaran.

Dalam konsep tersebut, pelaku usaha dapat memiliki aktivitas bisnis di Indonesia maupun Timor-Leste. Bahan baku, proses produksi, pengemasan hingga distribusi dapat ditempatkan berdasarkan efisiensi dan kemudahan akses pasar.

“Jadi kita seperti pengusaha yang punya dua kaki. Satu kaki di Timor-Leste, satu kaki ada di Indonesia, di NTT,” ujarnya.

Konsep tersebut, menurut Bobby, memungkinkan kawasan NTT dan Timor-Leste dikembangkan sebagai satu ekosistem ekonomi lintas batas dengan memanfaatkan kedekatan geografis, pelabuhan, bandara, serta potensi pasar kedua wilayah.

KADIN NTT juga mendorong agar Oecusse yang memiliki posisi khusus di Timor-Leste dapat dikaitkan dalam desain kawasan industri dan perdagangan lintas batas tersebut.

Kawasan Ekonomi Lintas Batas

Bobby mengatakan KADIN NTT telah membentuk Satgas Percepatan FTZ untuk mengawal agenda tersebut agar tetap berlanjut meski terjadi pergantian kepemimpinan pemerintahan daerah.

Menurut dia, dunia usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan dan kesinambungan program agar investasi dapat berkembang.

“Kami melihat kepentingan dunia usaha ini sangat penting. Sehingga kami buat Satgas Percepatan FTZ untuk mengawal setiap pemerintah dan pemerintah daerah agar bisa mendorong percepatan FTZ ini terjadi untuk kebangkitan ekonomi Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Ia juga menyambut dukungan Pemerintah Provinsi NTT yang telah membentuk tim dan tim penyusun FTZ, serta dukungan Bank Indonesia dalam proses pengembangan konsep tersebut.

KADIN NTT, kata Bobby, siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembentukan kawasan perdagangan bebas maupun kawasan ekonomi khusus yang dapat memperluas basis investasi dan industri daerah.

Bidik Kupang–Dili–Darwin

Selain Timor-Leste, KADIN NTT juga mengembangkan komunikasi ekonomi dengan Darwin, Australia, sebagai bagian dari gagasan triangle economy Kupang–Dili–Darwin.

Bobby menyebut komunikasi telah dilakukan dengan Chamber of Commerce and Industry (CCI) Timor-Leste, Chamber of Commerce and Industry Northern Territory, serta Australian-Indonesia Business Council (AIBC).

Ia mengungkapkan adanya rencana kunjungan Mayor Peter Styles dari Darwin City ke Kupang untuk membahas penandatanganan nota kesepahaman dengan Pemerintah Kota Kupang.

Menurut Bobby, penguatan konektivitas Kupang, Dili dan Darwin dapat menjadi bagian dari strategi memperluas pasar produk NTT sekaligus menarik investasi ke kawasan.

“Market kita tentu bukan hanya Timor-Leste, tetapi untuk dunia. Maka dari itu, from NTT to the world,” ujarnya, menegaskan.

Bobby berharap gagasan FTZ dan konektivitas ekonomi lintas batas tersebut dapat menjadi instrumen baru untuk meningkatkan daya saing produk lokal, memperluas investasi, serta mendorong industrialisasi di NTT.

Bagi KADIN NTT, posisi geografis daerah bukan sekadar keunggulan lokasi, tetapi dapat menjadi modal ekonomi regional apabila ditopang regulasi, infrastruktur, konektivitas, dan ekosistem investasi yang terintegrasi. (As)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....