BI NTT: Meski Melambat, Kinerja Penjualan Eceran Juli di Kota Kupang Tetap Tumbuh
- 13 Agt 2026 10:55 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kinerja penjualan eceran di Kota Kupang pada Juli 2026 diprakirakan tetap tumbuh, meski kecepatannya melambat dibanding bulan sebelumnya. Hal itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil/IPR Kota Kupang Juli 2026 yang diprakirakan sebesar 79,24. Secara tahunan tumbuh 23,55 persen yoy. Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan Juni 2026 yang sebesar 24,05 persen yoy.
“Prakiraan kinerja penjualan eceran Juli 2026 yang tetap tumbuh ditopang oleh kelompok kendaraan; suku cadang dan aksesori; perlengkapan rumah tangga lainnya; dan bahan bakar kendaraan bermotor,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, Adidoyo Prakoso, kepada wartawan di Kupang, Kamis, 13 Agustus 2026.
Namun, sejumlah kelompok komoditas justru diprakirakan mengalami penurunan kinerja. Kelompok yang tertekan antara lain barang budaya dan rekreasi, sandang, serta peralatan informasi dan komunikasi.
Secara bulanan, penjualan eceran Kupang juga diprakirakan tumbuh melambat. IPR Juli 2026 tumbuh 4,75 persen mtm, turun dari 16,27 persen mtm pada Juni 2026.
Tren yang sama juga terlihat di tingkat nasional. IPR nasional Juli 2026 diprakirakan tetap tumbuh secara tahunan di level 224,4.
Secara bulanan, penjualan eceran nasional justru diprakirakan mengalami kontraksi 0,3 persen mtm setelah tumbuh 0,7 persen mtm pada bulan sebelumnya. Bank Indonesia menyebut hal itu dipengaruhi normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional dan libur sekolah.
Tekanan Harga Diprakirakan Naik Jelang September
Dari sisi harga, tekanan inflasi 3 bulan ke depan diprakirakan meningkat. Indeks Ekspektasi Harga/IEH September 2026 tercatat 200,0, lebih tinggi dari periode sebelumnya 197,9.
Kenaikan itu sejalan dengan puncak musim kemarau di NTT yang berpotensi menekan pasokan pangan.
Sementara itu, IEH Desember 2026 diprakirakan stagnan di level 200,0, sama dengan periode sebelumnya. Peningkatan permintaan saat HBKN Natal dan Tahun Baru menjadi faktor utamanya.
“Tekanan harga 3 bulan ke depan, yaitu September 2026, diprakirakan meningkat. Sedangkan tekanan harga 6 bulan ke depan, Desember 2026, masih sama dengan periode sebelumnya,” kata Adidoyo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....