HP2SK NTT Suplai Ribuan Sapi Kurban untuk Idul Adha

  • 22 Mei 2026 11:16 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-HP2SK NTT atau Himpunan Pengusaha Peternak Sapi dan Kerbau Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menunjukkan perannya sebagai salah satu pemasok sapi terbesar di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Ketua Umum HP2SK NTT, Tono Sufari Sutami, mengatakan permintaan sapi kurban dari luar daerah tahun ini masih sangat tinggi, terutama dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Jakarta.

Menurut Tono, fokus pengiriman sapi menjelang Iduladha lebih banyak diarahkan ke luar Pulau NTT karena tingginya permintaan dari berbagai provinsi. Meski demikian, kebutuhan masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya tetap dilayani.

“Untuk dalam Kota Kupang sendiri kami siapkan sekitar 70 sampai 80 ekor sapi untuk penjualan umum. Namun pengiriman terbesar tetap ke Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Jakarta karena permintaannya mencapai ribuan ekor,” ujarnya saat ditemui wartawan RRI di ruang kerjanya, Kamis 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, khusus pengiriman dari anggota HP2SK NTT, jumlah sapi yang dikirim menjelang Iduladha tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 6 ribu ekor. Jumlah tersebut sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 7 hingga 8 ribu ekor.

Sementara itu, secara keseluruhan pengeluaran sapi dari seluruh wilayah NTT diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu ekor pada tahun ini. Angka tersebut masih berpotensi bertambah seiring adanya permintaan susulan dari berbagai daerah pada pertengahan tahun.

Tono menyebut NTT selama ini dikenal sebagai salah satu “gudang ternak” nasional karena menjadi pemasok sapi lokal terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu, kualitas ternak terus dijaga agar tetap sehat dan layak konsumsi.

“Kami menjaga kualitas sapi dengan pemberian vitamin, pakan hijauan alami seperti rumput dan lamtoro, serta menjaga kebersihan kandang. Kami tidak menggunakan pakan tambahan atau konsentrat,” katanya.

Selain menjaga kualitas, HP2SK NTT juga berupaya mempertahankan populasi ternak melalui program penyediaan betina produktif. Setiap pengusaha yang melakukan pengiriman sapi diwajibkan menyediakan minimal 10 persen betina produktif sesuai aturan pemerintah daerah.

Betina produktif tersebut dikelola melalui kemitraan dengan peternak lokal dan didukung pejantan unggul untuk meningkatkan populasi ternak di NTT. “Kalau pengeluaran sapi terlalu banyak tanpa menjaga populasi, lama-lama sapi bisa habis. Karena itu kami tetap menjaga keseimbangan antara pengiriman dan pengembangan populasi,” ungkapnya.

Terkait proses pengiriman ternak antarpulau, Tono mengatakan prosedur pemeriksaan kesehatan dilakukan secara ketat. Setiap sapi yang akan dikirim harus melalui pemeriksaan kesehatan di tingkat kabupaten hingga Balai Karantina Kupang.

“Pengambilan sampel darah dilakukan dua kali, di daerah asal dan di karantina sebelum keberangkatan. Jadi sapi yang keluar dari Karantina Kupang dipastikan sehat dan bebas penyakit,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini pengiriman sapi dari NTT masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Menurutnya, sapi lokal NTT memiliki kualitas yang baik, namun untuk pasar luar negeri masih terkendala ukuran tubuh yang kalah dibanding sapi impor. (DW)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....