Tumbuh Sehat Tamma: Langkah Terpadu Undana Hadapi Krisis Stunting di Sumba Timur

  • 30 Jul 2026 16:03 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Prevalensi stunting di Desa Tamma, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, menyentuh level mengkhawatirkan. Menanggapi kondisi darurat tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) meluncurkan strategi terpadu bertajuk “Tumbuh Sehat Tamma”.

Berdasarkan data Puskesmas Mangili per Februari 2026, tercatat sebanyak 37 balita dari enam Posyandu aktif di Desa Tamma mengalami gangguan pertumbuhan berdasarkan indikator Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Prevalensi stunting di antara balita bermasalah TB/U tersebut bahkan mencapai 100 persen, sebuah angka yang jauh melampaui rata-rata kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Ketua Tim PKM Undana, dr. Debora Shinta Liana, Sp.A, menegaskan bahwa penanganan stunting di Desa Tamma tidak bisa dilakukan dengan metode konvensional yang parsial. “Masalah defisit gizi, lemahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta risiko kontaminasi lingkungan dari kandang ternak tidak bisa ditangani secara terpisah karena saling memperkuat di lapangan,” ujar dr. Debora kepada RRI, Kamis, 30 Juli 2026.

Melihat kompleksitas masalah tersebut, Undana menerjunkan tim lintas disiplin yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter spesialis anestesi, sarjana kesehatan masyarakat, hingga dokter hewan. Mereka mengusung pendekatan One Health, yakni memadukan intervensi gizi, edukasi PHBS, dan tata kelola sanitasi-zoonosis dalam satu kerangka utuh.

Dalam kegiatan penyuluhan di Kantor Desa Tamma, Sabtu, 25 Juli 2026,sebanyak 40 peserta yang terdiri atas Ketua RT, kader Posyandu, dan ibu balita juga diberikan edukasi komprehensif. Dokter hewan dalam tim membekali warga dengan materi pengelolaan kandang ternak yang aman serta higiene penyiapan makanan guna mencegah infeksi zoonosis akibat jarak rumah dan kandang yang berdekatan.

Selain pencegahan kontaminasi, tim juga menggelar pelatihan fortifikasi pangan berbasis standar Tabel Komposisi Pangan Indonesia, dimana para kader dilatih membuat bolu kukus ubi ungu kelor serta finger food berbahan singkong, ayam, dan kelor dengan standar gizi terukur minimal 200 kalori dan 5–7 gram protein per porsi. Program yang berlangsung sejak Juni hingga Juli 2026 ini diharapkan menjadi pijakan utama dalam memutus rantai stunting secara terstruktur dan berkelanjutan di Sumba Timur. (JR/dr.Debora)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....