Bangun Keberanian Anak, BBNTT Hadirkan Literasi Kreatif dan Inklusif di Pesisir
- 12 Mei 2026 20:51 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Komunitas Buku Bagi NTT (BBNTT) terus mendorong hadirnya literasi pembelajaran yang kreatif dan inklusif bagi anak-anak khsusunya di wilayah pesisir Kabupaten Rote Ndao. Melalui kolaborasi bersama komunitas RUBI (Ruang Berbagi Ilmu), kegiatan literasi ini dirancang tidak hanya berfokus pada membaca, tetapi juga membangun keberanian, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis anak-anak.
Dalam wawancaranya dalam segmen Kita Indonesia, Senin 11 Mei 2026, perwakilan BBNTT Kupang, Udo Famal menjelaskan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk dibawa ke Rote pada Juni 2026 mendatang. “Sekarang kami lagi kumpul buku-buku bacaan, alat tulis, dan beberapa permainan edukatif yang bisa membantu meningkatkan kecerdasan anak-anak,” ujarnya.
Pendekatan yang diambil dalam kegiatan ini tergolong unik karena menggabungkan literasi dengan elemen populer yang dekat dengan keseharian anak-anak, seperti musik dan permainan. Udo menekankan bahwa metode kreatif sangat diperlukan agar anak-anak pesisir tidak merasa bosan dan lebih berani menunjukkan kemampuan diri mereka.
| Baca juga: Geng Waras Bagikan Alat Tulis di TTS |
"Kami ingin pendekatan yang asik atau kekinian agar literasi bisa melekat, misalnya dengan menyisipkan beatbox, bermain catur, hingga mengganti lirik lagu yang sedang viral dengan pesan edukatif," tambahnya. Strategi ini diharapkan mampu memicu rasa ingin tahu anak-anak melampaui sekadar aktivitas membaca teks secara pasif.
Selain aspek hiburan, kolaborasi ini juga menyasar pemahaman praktis melalui rencana pembuatan apotek hidup di sekitar taman baca. Edukasi mengenai tanaman obat lokal akan menjadi sarana belajar bagi anak-anak untuk lebih mengenali potensi alam di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.
Udo Famal juga menyoroti pentingnya literasi sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir kritis bagi anak-anak di NTT. Menurutnya, kepercayaan diri akan muncul dengan sendirinya ketika anak-anak memahami sesuatu dengan baik dan merasa didukung oleh lingkungannya.
Menurut Udo, kegiatan tersebut berjalan melalui sistem donasi dari masyarakat yang kemudian dikurasi sebelum disalurkan ke taman baca di berbagai wilayah NTT. Ia menjelaskan bahwa buku yang diterima harus sesuai dengan kebutuhan anak-anak.
“Banyak buku yang disumbangkan, tapi tidak semuanya cocok untuk anak-anak. Jadi kami lihat lagi sebelum dibagikan,” katanya. Selain buku pelajaran dan buku cerita anak, komunitas ini juga menerima donasi novel remaja dan komik yang dinilai mampu menarik minat baca generasi muda.
Namun, Udo menegaskan bahwa buku yang disalurkan tidak boleh mengandung unsur kekerasan, pornografi, maupun isu SARA. “Kami ingin memastikan buku-buku ini benar-benar aman dan bermanfaat untuk perkembangan anak,” jelasnya.
Udo mengungkapkan, kolaborasi dengan komunitas RUBI dilatarbelakangi oleh kesamaan visi dalam membangun literasi yang lebih mendalam di NTT. Ia menilai literasi tidak cukup hanya membaca dan menulis, tetapi juga harus melatih kemampuan memahami dan berpikir kritis terhadap isi bacaan.
“Kami melihat semangat literasi di NTT masih banyak fokus pada membaca saja, belum sampai pada proses menelaah dan berpikir kritis,” ujarnya. Berdasarkan pengalamannya saat mengunjungi Taman Baca Pulau Landu di Rote tahun lalu, Udo melihat banyak anak pesisir sebenarnya memiliki kemampuan yang baik, tetapi kurang percaya diri untuk tampil.
Di akhir perbincangan, ia mengajak masyarakat luas untuk terus mendukung gerakan ini melalui donasi buku bacaan anak yang berkualitas dan edukatif. "Literasi bukan sekadar membaca, tapi bagaimana kita memahami dan merasai sesuatu; tanpa literasi, hubungan antarmanusia akan terasa hambar karena hilangnya rasa saling memahami," tutupnya. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....