Karnaval Budaya NTT Angkat Semangat Gotong Royong dan Persatuan
- 19 Agt 2026 12:00 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Semangat gotong royong, kebersamaan, dan persatuan menjadi pesan utama dalam Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Penelaah Teknis Kebijakan pada Dinas Sosial Provinsi NTT, Shandra Isliko, mengatakan pihaknya membawa tema gotong royong sebagai simbol kekuatan bersama dalam membangun bangsa.
Mengusung semangat Ende sebagai kota rahim lahirnya Pancasila, sejumlah peserta menampilkan kekayaan budaya daerah sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa. “Semangat gotong royong, kebersamaan, dan pemersatu untuk menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Shandra, Kamis 13 Agustus 2026.
Dalam karnaval tersebut, Dinas Sosial NTT menampilkan tarian tradisional Gawi serta membawa ikon Garuda Pancasila. Keterlibatan Dinas Sosial juga diperkuat oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan aparatur sipil negara (ASN).
Sebanyak 38 orang dari lingkungan Dinas Sosial ikut ambil bagian dalam karnaval tersebut, sementara 22 orang di antaranya menjadi peserta yang dinilai. Shandra berharap keterlibatan dalam karnaval tidak sekadar menjadi bagian dari sebuah perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat kebangsaan.
“Harapannya, dengan karnaval kali ini kita tidak hanya ikut, tetapi punya semangat kebangsaan yang tinggi untuk mempersatukan berbagai suku, agama, dan budaya dalam persatuan dan kesatuan Indonesia,” katanya.
Nuansa budaya semakin kuat dengan kehadiran Sanggar Embun Muna Abu Yaramang dari Kabupaten Alor. Sanggar yang digawangi generasi muda itu membawa sejumlah tradisi khas Alor dalam karnaval.
Enos Agalakari, salah seorang anggota sanggar, menjelaskan mereka menampilkan tradisi yang biasa hadir dalam berbagai pesta dan perhelatan masyarakat Alor. Salah satunya adalah Ngogwar, yang menjadi tanda kesiapan untuk hadir dan bergabung bersama masyarakat dalam sebuah momentum.
Mereka juga menampilkan Cakalile sebagai simbol semangat kebersamaan. Rangkaian penampilan kemudian ditutup dengan Lego-Lego, sebuah tradisi yang sarat makna persatuan.
“Lego-Lego itu di mana kami akan membangun persatuan, kebersamaan, untuk memupuk dari beragam menjadi seragam,” ujar Enos.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi identitas yang ingin terus diwariskan kepada generasi muda, sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas melalui karnaval budaya. Tidak hanya mempertahankan tradisi, Sanggar Embun Muna Abu Yaramang juga menunjukkan kreativitas generasi muda melalui busana yang terbuat dari bahan pandan.
Enos menjelaskan, busana tersebut merupakan pengembangan dari tradisi leluhur masyarakat Alor yang telah mengenal penggunaan payung sebagai bagian dari budaya mereka. Terinspirasi dari warisan tersebut, para generasi muda kemudian mengembangkan pandan menjadi bagian dari pakaian, topi, dan berbagai aksesori.
“Budaya itu kan budi dan daya. Budi dan daya artinya kekuatan dan kemampuan. Akhirnya kami juga anak muda tidak mau kalah dengan leluhur. Maka kami temukan jas pandan,” ujarnya.
Ia mengatakan kreativitas tersebut merupakan bentuk upaya generasi muda untuk tetap mencintai budaya tanpa harus menolak perkembangan zaman. Menurut Enos, generasi muda boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap harus mampu menyaring pengaruh yang datang agar tidak kehilangan jati diri dan akar budaya.
Bagi mereka, tampil dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar mempertontonkan kesenian, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan yang menyatukan Indonesia. Dari Gawi di Ende hingga Ngogwar, Cakalile, dan Lego-Lego dari Alor, karnaval budaya NTT menjadi panggung yang memperlihatkan wajah Indonesia: beragam dalam tradisi, namun tetap satu dalam semangat kebangsaan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....