Pendidikan dan Kearifan Lokal Perkuat Toleransi Generasi Muda
- 20 Jul 2026 09:54 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang — Pesatnya perkembangan teknologi digital membawa tantangan tersendiri bagi pembentukan karakter dan kebudayaan generasi muda. Dosen Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Yohana Fransiska Medho, S.IP., M.IP., menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal serta etika moral untuk mencegah perilaku intoleransi di kalangan anak muda.
Dalam obrolan Kita Indonesia di RRI Pro 4 Kupang, Jumat 17 Juli 2026, Yohana mengungkapkan bahwa kampus dan dunia pendidikan harus menjadi ruang aman bagi pengembangan intelektual sekaligus pembentukan karakter beradab. Menurutnya, perbedaan identitas atau pendapat harus dipandang sebagai kekayaan wawasan, bukan alasan untuk mendiskriminasi orang lain.
"Pendidikan tidak hanya bertujuan melahirkan orang pintar, tetapi membentuk manusia yang bijak dan beradab. Toleransi tidak menghilangkan jati diri, justru menunjukkan kematangan kita untuk hidup bersama dalam perbedaan," ungkapnya.
Yohana juga mendorong riset berbasis kearifan lokal serta penggunaan busana motif tenun daerah dalam berbagai event akademik dan kepemudaan. Salah satu karyanya yang memenangkan kompetisi kementerian adalah kajian mengenai revitalisasi tinju adat Nagekeo sebagai potensi pariwisata budaya.
“Ini juga menjadi salah satu kontribusi nyata bahwa budaya atau kearifan lokal kita itu tidak hilang ketika kita berpindah tempat, tetapi kearifan lokal itu tetap hidup dan ada di dalam nadi dan sanubari kita,” jelasnya.
Sementara itu, Yeremias Pande Gany, Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (IKEBANA) NTT, menyebutkan bahwa generasi muda Nagekeo di Kupang terus dilibatkan dalam berbagai festival budaya, olah raga, hingga peringatan hari besar nasional tanpa memandang perbedaan. Ia berharap agar generasi muda Indonesia tidak hanya bangga akan penguasaan teknologi, tetapi juga memegang teguh identitas budaya serta nilai-nilai toleransi demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dari budaya-budaya NTT dengan berbagai ritualnya itu yang kita dengar dan kita lihat, ada tingkat toleransi yang luar biasa yang diberikan kepada bangsa ini dan ini merupakan kekuatan, dimana secara organisasi kita memandang ini sebagai kekayaan, sehingga dapat menipiskan perbedaan itu dengan potensi-potensi atau nuansa-nuansa lokal yang kita lihat setiap hari,” katanya, mengakhiri. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....