Bonet Menjadi Instrumen Pewarisan Nilai Budaya Atoni

  • 26 Jun 2026 00:18 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Pendidikan Budaya, Nilai Filosofis, Gotong Royong, Warisan Leluhur, Kurikulum Sekolah, Generasi Muda

RRI.CO.ID, Kupang - Tradisi tarian Bonet pada masyarakat Atoni Pah Meto dinilai bukan sekadar seni hiburan, melainkan sebuah media pendidikan budaya yang kaya akan nilai sosial dan spiritual. Keragaman makna filosofis di dalam setiap gerakannya menjadi fondasi penting pembentukan karakter masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

“Tarian Bonet mengandung nilai sosial yang mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, dan gotong royong melalui formasi gerakan melingkar serta saling bergandengan tangan tanpa putus,” kata Peneliti Budaya sekaligus Guru Bahasa Inggris SMA Kristen IPEKA Balikpapan, Amon Bernabas Tenis, S.Pd., M.A saat diwawancarai Pro 4 RRI Kupang.

Ia menjelaskan, secara spiritual tarian ini merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Uis Neno (Tuhan langit) dan Uis Pah (Tuhan bumi), serta penghormatan terhadap leluhur. Melalui syair sastra lisan yang dilantunkan secara berbalas-balasan, para tetua adat melestarikan nasihat, ajaran moral, dan sejarah hidup bagi generasi penerus.

Mengingat pentingnya fungsi pelestarian tersebut, Amon mendorong agar pengetahuan tradisional terkait ragam spesifik tarian Bonet dapat diintegrasikan secara mandiri ke dalam kurikulum pendidikan formal di daerah.

“Sekolah-sekolah di TTS memang sudah mulai memperkenalkan Bonet melalui ujian praktik. Namun, agar nilai filosofisnya tidak luntur dan anak-anak memahami konteksnya sejak dini, akan jauh lebih efektif jika kebudayaan ini dijadikan mata pelajaran khusus yang berdiri sendiri, bukan sekadar pelengkap muatan lokal,” ujarnya.

Amon berharap melalui langkah ini, nilai kebudayaan lokal dapat menjadi basis pendidikan karakter yang kuat demi masa depan generasi muda Atoni Pah Meto. (Daten)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....