Christian Widodo Apresiasi Harmoni Budaya Kupang

  • 30 Mei 2026 08:56 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Wali Kota Kupang, Christian Widodo, mengapresiasi semangat kebersamaan dan totalitas komunitas Hindu serta berbagai paguyuban budaya dalam menyukseskan Karnaval Budaya HUT ke-140 Kota Kupang tanpa dukungan anggaran besar dari pemerintah daerah.

Hal itu disampaikan Christian Widodo saat menghadiri perayaan Dharma Santi umat Hindu di Kota Kupang. Ia menilai komunitas Bali dan umat Hindu menjadi pelopor dalam membangun semangat kolaborasi lintas budaya di Kota Kupang.

Perayaan Dharma Santi umat Hindu di Aula Serba Guna Rumah Jabatan Walikota Kota Kupang, Selasa (26/5)

“Saya mengucapkan limpah terima kasih dan apresiasi yang tinggi untuk keluarga Bali dan komunitas Hindu. Penampilan di Karnaval Budaya luar biasa, totalitas, dan menjadi motivasi bagi komunitas lain,” kata Christian.

Menurutnya, Karnaval Budaya menjadi sejarah baru bagi Kota Kupang karena untuk pertama kalinya seluruh komunitas etnis dan budaya tampil bersama memamerkan identitas budaya masing-masing.

Ia mengungkapkan, ide penyelenggaraan karnaval lahir dari aspirasi komunitas-komunitas budaya yang menginginkan ruang untuk menampilkan busana adat, tarian, hingga tradisi khas daerah mereka.

Christian menyebut keberhasilan acara tersebut membuktikan kuatnya kecintaan masyarakat terhadap Kota Kupang. Bahkan, sebagian besar komunitas tampil secara sukarela dengan menggunakan sumber daya sendiri.

“Ini bentuk cinta masyarakat kepada Kota Kupang. Banyak komunitas datang tanpa meminta anggaran besar, mereka ingin menunjukkan kebanggaan budaya mereka,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Christian juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang mendukung kegiatan keagamaan dan budaya seluruh umat beragama, termasuk umat Hindu melalui dukungan anggaran kegiatan Nyepi dan Dharma Santi tahun 2026.

Selain menyoroti semangat budaya, Christian juga mengapresiasi nilai refleksi dalam Hari Raya Nyepi. Ia menilai tradisi hening dan jeda sejenak dari aktivitas menjadi pesan penting di tengah kehidupan masyarakat modern yang serba cepat.

“Dalam hidup harus ada jeda, harus ada ruang untuk mereset diri. Nyepi mengajarkan itu,” katanya.

Ia menegaskan harmoni yang dibangun di Kota Kupang bukan berarti menyeragamkan perbedaan, melainkan menjaga keseimbangan dan saling menghormati antarwarga.

“Harmoni itu bukan sama atau seragam, tetapi bagaimana semua perbedaan bisa hidup berdampingan dengan damai,” ujar Christian.

Perayaan Dharma Santi berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan menjadi momentum memperkuat persaudaraan lintas etnis dan agama di Kota Kupang, yang terus didorong sebagai “Kota Kasih”. (As)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....