Sastra Menempatkan Perempuan Sebagai Simbol Kehidupan Mulia
- 25 Mei 2026 11:08 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Konsep pemaknaan antara kata "perempuan" dan "wanita" dalam karya sastra, khususnya puisi, memiliki landasan etimologis dan kedudukan nilai yang sangat berbeda. Dalam karya sastra, sosok perempuan dipandang sebagai aspek yang jauh lebih mendalam karena merepresentasikan kemuliaan dan keberlanjutan kehidupan.
“Secara etimologis, kata perempuan muncul pertama kali dari bahasa Jawa kuno yang akar katanya 'empu' atau tuan, berarti yang dituankan dan dimuliakan. Sementara wanita berasal dari bahasa Sanskerta 'vanita' yang berarti yang diinginkan,” kata Penulis dan Penyair NTT, E. Nong Yonson saat diwawancarai dalam program Kecapi (Ketong Baca Puisi) di Pro 4 RRI Kupang, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa para penyair dan sastrawan sangat jarang menggunakan kata wanita di dalam baris atau frasa puitis mereka. Hal ini dikarenakan sastra menempatkan perempuan pada posisi yang luhur, bukan sekadar pelengkap visual atau sosok yang hadir untuk memenuhi keinginan sementara.
“Perempuan di dalam sastra adalah rahim semesta. Ketika ia mampu menjaga kesakralannya, ia menjadi simbol keberlanjutan hidup. Melalui puisi, kita diajak melihat bahwa kecantikan sejati seorang perempuan bukan dari tampilan visualnya, melainkan dari kedalaman karakter dan rasa,” kata Nong Yonson.
Pihaknya menilai bahwa dalam era modern, tantangan terbesar bagi kaum perempuan adalah kecenderungan untuk merasa tidak percaya diri (insecure) secara fisik karena terlalu terjebak di dalam opini dan penilaian orang lain. Padahal, esensi jatuh cinta dalam perspektif sastra sepenuhnya berbicara tentang rasa.
Nong Yonson mengimbau kaum perempuan modern untuk kembali mengenali potensi batin mereka yang luar biasa dan tidak sekadar fokus pada penampilan luar. Keindahan sejati perempuan akan terpancar ketika mereka mampu memperkenalkan jati diri dan karakter luhur yang mereka miliki kepada semesta. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....