Teater Satu Timor Rawat Budaya NTT lewat Panggung Teater
- 15 Mei 2026 12:17 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Teater menjadi salah satu ruang seni yang terus menjaga budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat. Melalui cerita, dialog, dan pertunjukan di atas panggung, nilai budaya lokal tidak hanya dikenang, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Hal tersebut dibahas dalam program Obrolan Budaya Pro 4 RRI Kupang pada Rabu, 13 Mei 2026 bersama Meylian Saefeto dan Yienzhi Unbanunaek, pelaku sekaligus aktor dari Teater Satu Timor.
Dalam perbincangan tersebut, keduanya menjelaskan bahwa teater memiliki arti penting bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat saat ini, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Menurut mereka, teater bukan sekadar hiburan, tetapi juga media untuk menyampaikan realitas kehidupan masyarakat dan menjaga identitas budaya lokal. Meylian Saefeto mengatakan, unsur budaya lokal selalu menjadi bagian penting dalam setiap naskah yang dipentaskan oleh Teater Satu Timor.
“Bahasa daerah, kebiasaan masyarakat, cerita rakyat, sampai nilai kehidupan masyarakat NTT itu penting untuk terus dihadirkan dalam pertunjukan. Karena lewat teater, budaya bisa tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda,” ujarnya. Sementara itu, Yienzhi Unbanunaek menjelaskan bahwa proses menerjemahkan naskah menjadi sebuah pertunjukan membutuhkan pemahaman mendalam terhadap cerita dan karakter yang dimainkan.
“Ketika naskah sudah ada, tugas berikutnya adalah bagaimana menghidupkan cerita itu di panggung. Aktor harus memahami emosi, karakter, dan pesan budaya yang ingin disampaikan supaya penonton bisa benar-benar merasakan isi cerita,” katanya.
Menurut mereka, tantangan terbesar dalam pertunjukan teater adalah menghadirkan pertunjukan yang kuat dan mampu menyentuh penonton tanpa menghilangkan makna budaya yang dibawa dalam cerita. Keduanya yang bergabung bersama Teater Satu Timor sejak tahun 2022 juga mengungkapkan bahwa komunitas tersebut telah berdiri sejak tahun 1992. Komunitas itu dibangun sejak masa orang tua mereka yang juga aktif dalam dunia teater dan seni pertunjukan.
“Teater Satu Timor sudah ada sejak tahun 1992. Dari dulu sampai sekarang, semangatnya tetap sama, yaitu menjaga budaya lewat panggung,” ujar Meylian.
Dalam perjalanan berkesenian, mereka menilai pujian bukanlah hal utama dalam sebuah pementasan. Bagi mereka, kritik yang membangun justru menjadi bagian penting untuk terus berkembang.
“Di Teater Satu Timor ada prinsip, ‘Pujian itu pisau, tepuk tangan itu silet, yang dibutuhkan hanyalah kritik.’ Karena dari kritik kami bisa belajar dan memperbaiki pertunjukan ke depan,” ungkap Yienzhi.
Berbagai pementasan yang dibawakan Teater Satu Timor juga tidak hanya tampil di Kota Kupang, tetapi telah mencapai tingkat nasional. Hal itu menjadi bukti bahwa seni teater dari NTT mampu hadir dan dikenal lebih luas. Mereka menilai teater menjadi salah satu cara yang efektif untuk merawat budaya lokal, sebab budaya tidak hanya diceritakan, tetapi benar-benar ditampilkan dan dirasakan bersama oleh masyarakat.
Di akhir perbincangan, keduanya berharap komunitas seperti Teater Satu Timor dapat terus hadir dalam menjaga dan merawat budaya, khususnya budaya dari Nusa Tenggara Timur, melalui karya dan pertunjukan di atas panggung.
“Harapannya teater tetap menjadi ruang untuk menjaga budaya NTT agar terus hidup, bukan hanya dikenang, tetapi juga diwariskan lewat pertunjukan dan generasi-generasi berikutnya,” tutup Meylian. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....