Jaga Identitas Daerah, Generasi Muda Didorong Menulis Cerita Rakyat

  • 17 Apr 2026 05:18 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Upaya pelestarian kekayaan budaya lokal di Nusa Tenggara Timur terus digalakkan melalui berbagai inovasi, salah satunya dengan mentransformasikan budaya tutur menjadi budaya tulis. Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) menginisiasi program latihan menulis cerita rakyat bagi generasi muda sebagai strategi menjaga identitas daerah agar tidak punah ditelan zaman.

Ketua Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando, S.I.P, saat berdialog di RRI Pro 4 Kupang, Selasa 14 April 2026, menyatakan bahwa inisiatif ini berawal dari kegelisahan akan mulai hilangnya budaya tutur di Sabu Raijua. Menurutnya, mendokumentasikan cerita rakyat dalam bentuk tulisan adalah langkah vital untuk pengarsipan sejarah dan nilai-nilai filosofis bagi generasi mendatang.

"Sabai Raijua kaya akan budaya tutur, namun jika tidak segera dituliskan, ada ancaman kepunahan dalam 20 atau 30 tahun ke depan saat para tokoh adat atau Jingitiu sudah tidak ada lagi. Kami ingin anak-anak muda, khususnya siswa SMA, terlibat aktif mendokumentasikan ini," ujarnya.

Program yang telah berjalan selama empat tahun terakhir ini tidak hanya sekadar menulis. Jefrison menjelaskan bahwa hasil tulisan para peserta nantinya akan diseleksi dan dibukukan untuk didistribusikan ke perpustakaan daerah dan sekolah-sekolah sebagai bahan literasi muatan lokal.

Selain itu, Yayasan GPS juga melakukan kolaborasi internasional dengan Universitas Nasional Singapura pada awal Mei mendatang. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengembangkan imajinasi anak-anak dalam membuat ilustrasi cerita rakyat menggunakan pewarna alami khas Sabu, seperti mengkudu dan nila.

"Kami tidak hanya bicara tentang tulisan, tapi bagaimana cerita rakyat ini bisa dipahami melalui karya teater, monolog, hingga komik dengan ilustrasi pewarna alami. Ini adalah cara agar budaya tidak dianggap sebagai hal kuno, melainkan sesuatu yang membanggakan dan memiliki nilai ekonomi serta sosial," ucapnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya para penulis muda, Yayasan GPS berencana menggelar festival seni literasi budaya dan pameran pangan lokal pada Juli 2026 mendatang. Dalam festival tersebut, beberapa cerita rakyat hasil tulisan peserta akan dipentaskan dalam bentuk seni teater oleh sanggar binaan yayasan.

Melalui kegiatan ini, Jefrison berharap pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dapat terus memberikan dukungan. Ia menekankan bahwa budaya adalah identitas dan harga diri masyarakat Sabu Raijua yang harus dijaga bersama.

"Pesan saya untuk adik-adik penulis muda, mari gunakan kesempatan ini untuk mengekspresikan kemampuan sekaligus menjaga warisan leluhur. Budaya kita adalah identitas kita," tuturnya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....