Perpustakaan Daerah Bertransformasi Jadi Ruang Inklusif Pelestarian Budaya

  • 14 Apr 2026 05:48 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Perpustakaan daerah tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku dan manuskrip-manuskrip tua, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif untuk edukasi budaya dan pengembangan kreativitas masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Kabupaten Sumba Tengah, Ersy Prihartini Rambu Awa, dalam program Obrolan Budaya di Pro 4 RRI Kupang, Kamis 9 April 2026.

Ersy menjelaskan bahwa di tengah arus digitalisasi, Perpustakaan Sumba Tengah memiliki misi besar untuk melestarikan kekayaan budaya lokal. Salah satu langkah konkretnya adalah melakukan penelusuran sejarah dan budaya lisan untuk dialih-mediakan menjadi koleksi perpustakaan.

"Kami berupaya agar budaya yang ada di kampung-kampung adat, yang selama ini hanya diwariskan secara tutur dari mulut ke mulut, bisa kita dokumentasikan dalam bentuk tulisan agar tidak punah dan bisa dipelajari generasi mendatang," ujarnya.

Untuk mendukung hal itu, pihak perpustakaan menyediakan fasilitas khusus seperti Pojok Sumba Tempo Dulu yang menyajikan informasi sejarah raja-raja Sumba, arsitektur rumah adat, hingga filosofi motif kain tenun lokal. Menyikapi tantangan generasi Z yang lebih akrab dengan gadget,

Ersy mengungkapkan pihaknya terus berinovasi melalui Lomba Bertutur, yang mengangkat cerita rakyat sebagai sarana melestarikan tradisi lisan bagi anak sekolah, Perpustakaan Keliling, menjangkau wilayah pelosok dan pusat keramaian untuk mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat petani dan peternak, dan Literasi Digital, yaitu dengan mengembangkan layanan perpustakaan digital guna memudahkan akses referensi tanpa harus datang ke gedung layanan.

Selain budaya, Ersy menekankan bahwa perpustakaan saat ini menerapkan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Program ini menyediakan buku-buku terapan yang dapat langsung dipraktikkan masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi.

“Harapannya ke depan ini perpustakaan bisa menginisiasi berbagai kegiatan, kegiatan-kegiatan diskusi budaya dan menyediakan ruang diskusi itu di perpustakaan. Dan hasil dari diskusi itu untuk memperkaya koleksi yang ada di perpustakaan. Tantangannya saat ini adalah bagaimana mengumpulkan kekayaan budaya ini untuk menjadi tulisan untuk dijadikan koleksi di perpustakaan, sehingga perpustakaan bisa menjadi ruang diskusi bagi masyarakat yang datang”, kataya memgakhiri. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....