Gereja St. Mikhael Bitefa Diteguhkan, Bukan Sekadar Bangunan tetapi Rumah Iman
- 22 Sep 2026 15:15 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Gereja bisa dibangun dengan batu. Namun, yang membuatnya hidup adalah iman, persaudaraan, dan pelayanan.
Pesan itu terasa kuat dalam Misa Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 21 September 2026 malam. Pentahbisan tersebut bukan sekadar perayaan berdirinya sebuah bangunan.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena yang hadir pada kesempatan itu menuturkan, di balik gereja yang kini berdiri kokoh, tersimpan perjalanan panjang umat: doa, gotong royong, pengorbanan, keringat, bahkan air mata. Ia menuturkan, setiap batu seakan menyimpan cerita tentang tangan-tangan yang bekerja, keluarga yang memberi, umat yang bertahan, serta harapan yang terus dijaga hingga akhirnya rumah iman itu dapat ditahbiskan.
Ungkapan Latin, “Non lapidibus tantum, sed fide aedificatur Ecclesia,” menjadi refleksi yang relevan: Gereja tidak dibangun hanya dengan batu, tetapi dengan iman. Karena itu, pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa di Desa Bitefa, Kecamatan Miomafo Timur, TTU diharapkan tidak berhenti pada kemegahan fisik bangunan.
Gereja diharapkan benar-benar menjadi rumah iman yang hidup, tempat keluarga dikuatkan, anak-anak bertumbuh dalam pendidikan dan iman, generasi muda menemukan harapan, serta umat bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik. Lebih dari itu, Gubernur NTT menyampaikan, gereja juga diharapkan mengambil bagian dalam gerakan membangun Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peran tersebut dapat diwujudkan melalui dukungan terhadap Jam Belajar Masyarakat, penguatan keluarga, pembentukan karakter, kerukunan, hingga pengembangan ekonomi umat melalui pendekatan One Village One Product (OVOP). Dengan demikian, gereja tidak hanya menjadi tempat umat beribadah, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian, solidaritas, pendidikan, dan kemandirian masyarakat.

Bersamaan dengan 19 Tahun Tahbisan Episkopat
Malam pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 19 tahun tahbisan episkopat Yang Mulia Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan ucapan selamat sekaligus apresiasi atas perjalanan pelayanan dan penggembalaan selama 19 tahun.
“Selamat 19 tahun pelayanan, Bapak Uskup. Terima kasih atas ketekunan menggembalakan umat dan terus menyalakan harapan,” ucap Gubernur Melki dalam refleksi atas momentum tersebut.
Pada akhirnya, Gereja St. Mikhael Bitefa tidak hanya diharapkan menjadi bangunan yang indah dipandang, tetapi menjadi gereja yang hidup dalam pelayanan dan nyata dalam kasih kepada sesama. Sebab, gereja yang megah bukan semata-mata karena bangunannya, melainkan karena iman umat yang hidup, persaudaraan yang terawat, serta pelayanan yang memberi dampak bagi kehidupan.
Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa pun menjadi momentum untuk merawat apa yang telah dibangun bersama: bukan hanya gerejanya, tetapi juga persaudaraan yang membuat gereja itu berdiri. Selamat atas penahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa, Mari terus Baku Sayang, Baku Jaga, dan bersama-sama membangun NTT sebagai rumah bersama. (rls/at)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....