Tenanglah Aku ini, Jangan Takut

  • 03 Agt 2026 07:17 WIB
  •  Kupang

RRI. CO. ID, Sumba - Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari berbagai tantangan dan persoalan. Ada kalanya seseorang menikmati kebahagiaan dan keberhasilan, namun pada waktu yang lain harus menghadapi kegagalan, penderitaan, maupun berbagai cobaan hidup.

Melalui renungan yang disampaikan dalam siaran Mutiara Pagi di Studio Pro 1 RRI Sumba, Senin 3 Agustus 2026, Penyuluh Agama Katolik pada Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat, Richardus Adrianus Gae, mengajak umat untuk memahami bahwa setiap fase kehidupan merupakan bagian dari perjalanan iman yang harus dijalani dengan penuh pengharapan kepada Tuhan. Pepatah "hidup ini berputar seperti roda" mengingatkan bahwa manusia perlu tetap rendah hati saat berada di atas dan tetap teguh ketika berada di bawah.

Dalam renungan yang mengangkat bacaan Injil tentang Yesus berjalan di atas air, Richardus menjelaskan bahwa sebelum menemui para murid-Nya, Yesus terlebih dahulu berdoa kepada Bapa. Sikap ini menunjukkan bahwa hidup doa menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi setiap tantangan.

Sebagai manusia, Yesus memberikan teladan bahwa hubungan yang erat dengan Allah harus senantiasa dipelihara. Oleh karena itu, umat diajak untuk membangun kehidupan doa yang setia agar memperoleh hikmat, ketenangan, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Ia juga menjelaskan bahwa perahu para murid yang diterpa angin ribut bukan hanya menggambarkan peristiwa yang terjadi di Danau Galilea, tetapi juga melambangkan perjalanan hidup manusia. Layaknya sebuah perahu yang mengarungi lautan, manusia menjalani kehidupan dengan harapan mencapai kebahagiaan sejati.

Namun dalam perjalanan tersebut, badai kehidupan seperti penyakit, kehilangan, kesulitan ekonomi, maupun berbagai persoalan lainnya sering kali datang tanpa diduga. Menurutnya, setiap badai kehidupan dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana atau justru membuat seseorang tenggelam dalam keputusasaan, tergantung bagaimana iman dijalani.

Lebih lanjut, Richardus menerangkan bahwa kedatangan Yesus kepada para murid pada sekitar pukul tiga pagi memiliki makna simbolis yang mendalam. Waktu tersebut menggambarkan situasi ketika manusia berada dalam titik terendah, dipenuhi rasa takut, putus asa, dan merasa seolah tidak ada jalan keluar.

Di tengah keadaan itulah Yesus hadir membawa penghiburan dengan sabda-Nya, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!". Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, bahkan ketika manusia merasa sendirian menghadapi beratnya kehidupan.

Menurut Richardus, mukjizat Yesus berjalan di atas air menunjukkan kuasa Allah atas alam semesta sekaligus kepedulian-Nya terhadap kehidupan manusia. Allah tetap memegang kendali atas setiap persoalan yang dihadapi umat-Nya.

Pertolongan Tuhan mungkin tidak selalu datang sesuai waktu yang diinginkan manusia, tetapi selalu hadir pada saat yang paling tepat. Karena itu, umat diajak untuk tidak kehilangan iman ketika menghadapi cobaan, melainkan terus percaya bahwa Yesus adalah Sang Penyelamat yang mampu mengalahkan ketakutan, penderitaan, bahkan maut sekalipun.

Menutup renungannya, Richardus Adrianus Gae mengajak seluruh umat beriman untuk datang kepada Yesus dalam setiap keadaan, terutama ketika menghadapi badai kehidupan yang terasa begitu berat. Ia juga mengingatkan bahwa sebagai murid Kristus, setiap orang dipanggil menjadi pembawa harapan bagi sesama yang sedang mengalami penderitaan.

Kehadiran, perhatian, dan kasih yang diberikan kepada orang lain merupakan wujud nyata iman yang hidup. Dengan tetap percaya kepada Tuhan dan saling menguatkan, umat diharapkan mampu melewati setiap tantangan hidup dengan penuh pengharapan, sebab hanya di dalam Yesus terdapat kelegaan, kekuatan, dan keselamatan sejati.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....