PKBI NTT Dorong Generasi Muda Menjadi Aktor Pembangunan Daerah
- 13 Jul 2026 23:31 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang: Peringatan Hari Kependudukan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan. Dengan mengusung tema Mewujudkan Harapan dan Aspirasi Orang Muda Hari Ini untuk Masa Depan, berbagai pihak didorong untuk tidak lagi memandang anak muda sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek yang memiliki potensi besar dalam menentukan arah pembangunan, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sekretaris Pengurus Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTT, Agustinus Brewon, ST, dalam Dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang (Sabtu, 11/7/2026) mengatakan persoalan kependudukan dan pembangunan generasi muda tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci agar setiap institusi dapat berkontribusi sesuai peran dan kekuatannya dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda.
Ia menjelaskan, PKBI sejak lama menjadikan kelompok remaja usia 10 hingga 24 tahun sebagai sasaran utama program pendampingan. Pendekatan yang digunakan berangkat dari keyakinan bahwa remaja bukan beban pembangunan, melainkan kekuatan yang harus diberdayakan. Karena itu, PKBI memberikan ruang kepada anak muda untuk merancang program, menyampaikan gagasan, serta menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang mereka hadapi sendiri.
Menurut Agustinus, pendekatan kepada generasi muda juga harus disesuaikan dengan karakter dan cara berpikir mereka. Ia menilai masih banyak program yang dirancang menggunakan sudut pandang orang dewasa sehingga kurang efektif menjangkau anak muda. Padahal, setiap generasi memiliki tantangan dan bahasa komunikasi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif serta membuka ruang dialog yang setara.
PKBI juga menaruh perhatian terhadap kelompok muda yang menghadapi persoalan kompleks, seperti penyalahgunaan narkotika, HIV, prostitusi, hingga kesehatan mental. Karena itu, organisasi tersebut mengembangkan pendekatan yang inklusif melalui layanan konseling dan psikologi. Agustinus menilai layanan pendampingan harus dapat diakses seluruh anak muda, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil di NTT, sehingga tidak ada generasi muda yang tertinggal dari layanan yang mereka butuhkan.
Selain itu, Agustinus menekankan pentingnya keluarga sebagai ruang pertama bagi anak untuk bertanya dan didengarkan. Menurutnya, banyak persoalan yang dialami anak muda berawal dari tidak adanya tempat yang aman untuk menyampaikan kegelisahan. Ia mengapresiasi gerakan mengantar anak ke sekolah dan mengambil rapor yang diinisiasi pemerintah karena dinilai mampu memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Ia juga mengingatkan bahwa anak bukan sekadar penurut, tetapi peniru terbaik dari perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Menutup dialog, Agustinus berpesan agar setiap keluarga menjadi tempat bagi anak-anak mencari jawaban atas berbagai persoalan hidupnya. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memberi ruang bagi generasi muda agar didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam proses pembangunan. Menurutnya, masa depan NTT sangat ditentukan oleh cara semua pihak memperlakukan anak-anak dan orang muda hari ini, termasuk mereka yang berasal dari berbagai latar belakang kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....