Makna Belis dalam Perkawinan Adat Sumba: Tradisi yang Tetap Bertahan

  • 22 Jun 2026 07:32 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Sumba - Belis merupakan salah satu tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari perkawinan adat di Sumba. Dalam masyarakat Sumba, belis bukan sekadar pemberian dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan, melainkan sebuah simbol penghormatan dan penghargaan terhadap perempuan serta keluarganya.

Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan adat. Secara umum, belis dapat berupa hewan ternak seperti kuda, kerbau, sapi, maupun barang berharga lainnya yang disepakati oleh kedua belah pihak keluarga.

Nilai belis yang diberikan biasanya disesuaikan dengan adat yang berlaku, status sosial keluarga, serta hasil musyawarah antara keluarga calon mempelai. Oleh karena itu, proses penentuan belis sering kali melibatkan tokoh adat dan keluarga besar dari kedua pihak.

Bagi masyarakat Sumba, belis memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar nilai materi. Belis menjadi simbol ikatan antara dua keluarga besar yang akan dipersatukan melalui pernikahan.

Melalui tradisi ini, hubungan kekeluargaan tidak hanya terjalin antara kedua mempelai, tetapi juga melibatkan seluruh anggota keluarga dan kerabat yang turut mendukung proses adat tersebut. Selain sebagai simbol penghormatan, belis juga mencerminkan tanggung jawab seorang laki-laki dalam membangun rumah tangga.

Dengan memenuhi kewajiban adat ini, pihak laki-laki menunjukkan keseriusannya untuk meminang dan menjaga perempuan yang akan menjadi istrinya. Hal ini sekaligus menjadi bentuk penghargaan kepada orang tua perempuan yang telah membesarkan dan mendidik anak mereka hingga dewasa.

Namun, di tengah perkembangan zaman, tradisi belis juga menghadapi berbagai tantangan. Tidak sedikit generasi muda yang merasa terbebani oleh tingginya nilai belis yang harus dipenuhi.

Kondisi ekonomi yang berbeda dengan masa lalu membuat sebagian pasangan harus berupaya lebih keras untuk memenuhi tuntutan adat. Meski demikian, banyak keluarga yang mulai mengedepankan musyawarah agar tradisi tetap berjalan tanpa memberatkan salah satu pihak.

Hingga saat ini, belis tetap bertahan sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Sumba. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai penghormatan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Dengan menyesuaikan pelaksanaannya terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna utamanya, belis diharapkan dapat terus lestari sebagai warisan budaya yang membanggakan bagi generasi mendatang.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....