BMKG NTT Imbau Masyarakat Waspada Menghadapi Potensi Penguatan Fenomena El Niño

  • 12 Jun 2026 16:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Stasiun Klimatologi Kelas II NTT BMKG mengeluarkan rilis resmi mengenai perkembangan fenomena El Niño yang berdampak nyata terhadap musim kemarau di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai fenomena global yang dipicu oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis, El Niño menekan pembentukan awan. Akibatnya, curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, khususnya NTT, mengalami penurunan drastis dan memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang serta kering.

Berdasarkan analisis tingkat intensitas terkini yang dirilis oleh BMKG, status El Niño saat ini memang masih berada pada tingkat Lemah (Weak). Kendati demikian, masyarakat diminta tidak lengah karena data pemantauan menunjukkan adanya tren penguatan yang signifikan.

Terdapat peluang sebesar 98% bagi fenomena ini untuk berkembang menjadi El Niño tingkat Moderat (Moderate), serta peluang sebesar 60% yang mengarah pada kondisi El Niño tingkat Kuat (Strong). Pihak BMKG NTT juga memberikan klarifikasi mengenai istilah populer "El Niño Godzila" yang belakangan ini kerap muncul di berbagai media massa.

BMKG menegaskan bahwa istilah tersebut sama sekali bukan merupakan terminologi resmi yang digunakan dalam rilis penanganan iklim institusi. Namun, BMKG mengajak masyarakat untuk mengambil sisi positif dari ramainya istilah tersebut sebagai pengingat agar publik tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan sejak dini.

Dampak dari El Niño ini diprediksi akan menyentuh berbagai sektor krusial di NTT. Selain terjadinya pengurangan curah hujan (CH) yang signifikan di atas normal dan durasi kemarau yang lebih panjang, wilayah NTT juga dihadapkan pada risiko kekeringan ekstrem, kelangkaan air bersih, hingga ancaman gagal panen bagi para petani.

Lebih jauh, fenomena alam ini dipastikan akan memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat, produktivitas sektor peternakan dan perikanan, serta stabilitas aktivitas ekonomi daerah. Guna meminimalisasi risiko yang ada, BMKG menyerukan langkah mitigasi dan adaptasi bersama, salah satunya melalui gerakan hemat air dan menjaga sumber air.

Masyarakat diimbau untuk menggunakan air seperlunya secara efisien, menampung sisa air hujan, serta proaktif menjaga kelestarian mata air, sumur, dan embung. Di sektor pertanian, para petani disarankan beralih ke varietas tanaman yang tahan kering, menyesuaikan pola tanam berdasarkan informasi iklim, serta memanfaatkan teknologi pertanian hemat air demi mewujudkan pertanian yang tangguh.

Selain menjaga ketersediaan pakan dan air minum bagi hewan ternak, langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi prioritas yang ditekankan dalam mitigasi ini. Masyarakat dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar, diwajibkan membersihkan lingkungan dari bahan yang mudah terbakar, serta segera melaporkan ke pihak berwenang jika melihat potensi titik api.

Dari sisi kesehatan pribadi, warga diminta memperbanyak konsumsi air putih, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta mewaspadai berbagai penyakit yang umum merebak saat musim kemarau. Sebagai penutup, BMKG NTT mengingatkan bahwa datangnya musim kemarau memang tidak bisa dihentikan, namun risiko buruknya dapat dikurangi melalui kerja sama semua pihak.

Masyarakat diharapkan terus memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG seperti situs web resmi, media sosial staklimNTT, maupun kontak WhatsApp layanan publik. Melalui langkah mitigasi dan adaptasi yang cepat, tepat, dan akurat ini, diharapkan seluruh lapisan masyarakat NTT dapat tetap tangguh, siap, dan berdaya menghadapi tantangan El Niño.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....