Kajian Pascagempa Flores Targetkan Prototipe Rumah dan Sekolah Tahan Gempa

  • 07 Okt 2026 12:23 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pengalaman gempa Flores pada 15 Agustus 2026 mendorong akademisi dan mahasiswa Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) merancang bangunan yang lebih aman terhadap bencana.

Bersama Program SIAP SIAGA, tim UNWIRA melakukan kajian lapangan di tujuh kabupaten terdampak gempa Flores. Kajian tersebut ditargetkan menghasilkan tiga prototipe rumah rakyat berukuran kecil, sedang, dan besar, serta satu prototipe sekolah tahan gempa.

Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNWIRA, Ir. Rani Hendrikus, MS mengatakan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali bangunan yang rusak. Menurutnya, bangunan yang dibangun kembali harus mampu memberikan perlindungan lebih baik ketika gempa kembali terjadi.

“Misi kita adalah menemukan alternatif rekayasa sederhana berbasis kondisi lokal agar masyarakat bisa bertahan (survive) saat gempa berikutnya terjadi,” kata Rani Hendrikus kepada RRI.CO.ID, Selasa, 6 Oktober 2026.

Untuk menghasilkan rekomendasi konstruksi yang sesuai dengan kondisi di lapangan, tim akan mengidentifikasi tipologi bangunan, mulai dari bahan dinding, bentuk bangunan, sistem rangka atap, hingga elemen struktur seperti kolom, balok, dan sambungan konstruksi.

Tim juga akan mendokumentasikan pola retak dan tingkat kerusakan bangunan akibat gempa. Data mengenai tipologi dan kerusakan tersebut selanjutnya dianalisis untuk mengetahui faktor yang menyebabkan sebuah bangunan lebih rentan terhadap guncangan.

“Dari penggabungan data tipologi dan pola kerusakan tersebut, kita dapat menyimpulkan tipe rumah mana yang paling rentan roboh. Data ini menjadi dasar statistik untuk merancang tiga prototipe rumah rakyat dan satu prototipe sekolah tahan gempa,” ujar Rani Hendrikus.

Menurut Rani, aspek keselamatan sekolah menjadi perhatian khusus dalam kajian tersebut. Pengalamannya mengamati dampak berbagai gempa di Indonesia selama lebih dari tiga dekade menunjukkan bahwa kerusakan bangunan sekolah masih menjadi persoalan yang berulang.

“Sekolah adalah tempat kita mendidik masa depan anak-anak kita. Melalui kajian ini, kami ingin melahirkan satu desain prototipe sekolah tahan gempa terstandar yang wajib diterapkan pemerintah dalam setiap pembangunan sekolah,” katanya.

Kajian tidak hanya berfokus pada desain bangunan, tetapi juga kualitas material dan praktik konstruksi masyarakat. Tim akan melihat sejumlah faktor teknis, termasuk mutu pasir, kualitas air, penggunaan tulangan baja, serta praktik pembangunan yang selama ini diterapkan di lapangan.

Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan edukasi bagi masyarakat dan tukang bangunan mengenai prinsip konstruksi tahan gempa yang sederhana, aman, dan dapat diterapkan sesuai kondisi lokal.

Survei akan dilakukan di Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat. Temuan lapangan nantinya menjadi bahan penyusunan panduan teknis rumah dan sekolah aman bencana sekaligus rekomendasi kebijakan pembangunan pascabencana.

Kajian ini diharapkan tidak berhenti pada menghasilkan gambar desain atau prototipe bangunan. Lebih jauh, pengalaman gempa Flores diharapkan menjadi dasar perubahan cara masyarakat membangun rumah dan fasilitas pendidikan agar lebih siap menghadapi risiko gempa berikutnya.

Keberhasilan pemulihan pascabencana pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat bangunan kembali berdiri, tetapi juga seberapa kuat bangunan tersebut melindungi masyarakat ketika bencana kembali terjadi. (rls/DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....