Digitalisasi Bank Sampah Liliba Tingkatkan Efisiensi Pengelolaan Sampah

  • 22 Sep 2026 11:45 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pengelolaan sampah di Kota Kupang mulai didorong melalui pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat pendataan, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat. Hal ini salah satunya dilakukan Forum Kupang Green and Clean (KGC) berbasis masyarakat di Kelurahan Liliba melalui pengembangan Sistem Informasi Bank Sampah Liliba (Siliba).

Ketua Forum Kupang Green and Clean Berbasis Masyarakat Kelurahan Liliba, Joseph Leonard Kale, ST., M.Si, dalam Dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang, Senin, 14 September 2026 mengatakan, digitalisasi dibutuhkan karena pencatatan secara manual dinilai membutuhkan waktu lebih lama. Menurutnya, Siliba dikembangkan untuk mempermudah pengelola bank sampah sekaligus nasabah dalam mencatat setoran sampah yang dapat didaur ulang. “Kami coba berinovasi dengan membuat sistem pencatatan berbasis digital, sehingga mempermudah kami sebagai bank sampah dan juga pengguna atau nasabah,” ujar Joseph.

Ia menjelaskan, Siliba mulai diluncurkan pada Juni 2026 dan menerapkan konsep seperti dompet digital bagi nasabah. Melalui sistem tersebut, setiap setoran sampah dapat dicatat dan dikonversi menjadi nilai tabungan. Hingga September 2026, berdasarkan data dalam aplikasi, KGC Liliba telah mencatat pengumpulan sekitar 2.291,6 kilogram sampah yang dapat didaur ulang, terutama plastik dan kertas.

Joseph mengatakan penerapan digitalisasi tersebut masih dilakukan dalam skala percontohan yang melibatkan tiga RT dalam satu RW di Kelurahan Liliba, termasuk anak-anak sekolah minggu dan PAUD. KGC berencana memperluas cakupan ke dua RT berikutnya sebelum dikembangkan secara bertahap ke wilayah yang lebih luas. “Kalau kami mulai dengan 51 RT, saya pikir kegiatan ini tidak jalan. Jadi coba dulu lingkup kecil, kemudian kalau pondasinya sudah kuat baru bergerak ke yang lain,” katanya.

Selain pencatatan digital, KGC menerapkan sistem jemput bola untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Warga terlebih dahulu diminta memilah sampah dari rumah, kemudian relawan menjemput sampah tersebut sesuai jadwal. Joseph menilai pendekatan tersebut penting untuk membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus memberikan kemudahan kepada masyarakat. KGC juga mengembangkan skema tabungan harian, pendidikan, dan hari raya yang memungkinkan hasil tabungan sampah dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, termasuk pencairan dana atau pembelian token listrik.

Menurut Joseph, teknologi juga membuka peluang agar pengelolaan sampah memberikan manfaat ekonomi dan edukasi. KGC bahkan sedang mengembangkan produk ekonomi kreatif berupa sapu yang dibuat dari botol plastik bekas. Di sisi lain, keterlibatan anak-anak menjadi bagian dari strategi membangun kebiasaan sejak dini. Ia menyebut setoran sampah dari anak-anak sekolah minggu yang sebelumnya hanya belasan kilogram per minggu kini telah mendekati 100 kilogram.

Joseph menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan semata-mata teknologi, melainkan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah. Karena itu, KGC melakukan sosialisasi secara langsung dari rumah ke rumah. “PR yang paling utama adalah bagaimana menyadarkan masyarakat untuk belajar mengelola sampahnya masing-masing,” ujarnya. Ia berharap pengalaman KGC Liliba dapat menjadi contoh yang dapat dikembangkan di wilayah lain di Kota Kupang, dengan dukungan pemerintah, komunitas, lembaga keagamaan, sekolah, dan masyarakat.

Ia mengajak masyarakat Kota Kupang, khususnya warga Liliba, untuk mulai mengelola sampah dari rumah. “Kelola sampah, bangun masa depan,” kata Joseph. Baginya, digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk membuat pengelolaan sampah lebih terdata, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....