Mutiara Pagi : Kasih yang Mendorong Sebuah Rekonsiliasi

  • 22 Sep 2026 10:58 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32 menggambarkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar kisah tentang seorang anak yang meninggalkan rumah. Perumpamaan tersebut memperlihatkan rusaknya relasi antara anak dan bapak, sekaligus menunjukkan bahwa baik mereka yang tersesat karena pelanggaran maupun mereka yang merasa dirinya paling benar sama-sama membutuhkan pemulihan.

Dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang, Selasa, 8 September 2026, Apriliatus Laiskodat, S.Th., Penyuluh Agama Kristen Kanwil Kemenag Provinsi NTT, menjelaskan bahwa kisah tersebut merupakan bagian dari rangkaian tiga perumpamaan Yesus yang disampaikan sebagai respons terhadap sungut-sungut orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka mempersoalkan Yesus yang menerima pemungut cukai dan orang berdosa.

Menurut Apriliatus, anak bungsu mengalami keterpisahan karena meninggalkan rumah dan memilih hidup menurut keinginannya sendiri. Sementara itu, anak sulung mengalami keterpisahan dalam bentuk berbeda, yakni merasa dirinya benar dan layak menerima kasih berdasarkan jasa serta ketaatannya. Karena itu, keduanya membutuhkan pemulihan. Persoalannya bukan hanya tentang siapa yang berdosa dan siapa yang benar, tetapi tentang hati manusia yang dapat terasing dari hati Bapa.

Apriliatus selanjutnya menjelaskan bahwa kasih Bapa adalah kasih yang memberikan kebebasan. Ketika anak bungsu meminta bagian harta miliknya, sang bapak tidak memaksa atau mengikatnya untuk tetap tinggal. Ia memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan pilihan, meskipun pilihan tersebut membawa konsekuensi. Menurutnya, kasih sejati tidak bersifat posesif, melainkan menghormati kebebasan dan menghendaki respons yang lahir dari hati.

Kasih tersebut kemudian menjadi jalan menuju rekonsiliasi ketika anak bungsu menyadari keadaannya dan memutuskan kembali kepada bapaknya. Saat anak itu masih jauh, sang bapak telah melihatnya, tergerak oleh belas kasihan, lalu berlari mendapatkan, merangkul, dan menciumnya. Tindakan tersebut menggambarkan kasih yang rela merendahkan diri untuk memulihkan hubungan yang rusak. Rekonsiliasi, kata Apriliatus, bukanlah kasih yang memaksa, melainkan kasih yang memberikan kesempatan dan ruang untuk kembali.

Ia juga menyoroti kasih yang memulihkan martabat. Anak bungsu merasa tidak layak lagi disebut sebagai anak dan bahkan bersedia menjadi orang upahan. Namun, sang bapak justru menerimanya kembali sebagai anak dan mengadakan perayaan atas kepulangannya. Kasih dan pengampunan tidak menghapus kenyataan bahwa kesalahan pernah terjadi, tetapi membuka jalan bagi kehidupan baru, perubahan, serta kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Pada bagian akhir, Apriliatus menjelaskan bahwa kasih Bapa juga menjangkau anak sulung yang terluka oleh kemarahan, kekecewaan, dan rasa tidak adil. Ketika anak sulung menolak masuk ke rumah, sang bapak keluar dan membujuknya. Dari sini, rekonsiliasi tidak hanya berarti membawa pulang mereka yang tersesat, tetapi juga menyembuhkan hati yang terluka dan merasa paling benar. Ia mengajak pendengar untuk kembali kepada Bapa serta meninggalkan kesombongan rohani, karena kasih Bapa menjemput yang tersesat, memulihkan yang jatuh, dan menjangkau hati yang terluka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....