Irigasi Rusak Ancam Ketahanan Pangan Masyarakat Wanokaka Sumba Barat

  • 17 Sep 2026 12:37 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Sumba - Kerusakan sejumlah ruas jaringan irigasi di Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mengancam produktivitas lahan persawahan masyarakat dan berpotensi memicu krisis pangan beras. Kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun membuat ratusan hektare sawah tidak mendapatkan pasokan air secara optimal. Kondisi tersebut berdampak pada lahan pertanian yang kini banyak terlantar, padahal Wanokaka selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil beras di Sumba Barat.

Kepala Desa Bali Loku, Umbu Juang Maga Maupadji, kepada RRI, Rabu (16/9/2026), mengatakan kerusakan jaringan irigasi menjadi salah satu penyebab utama lahan persawahan masyarakat tidak dapat digarap secara maksimal. Ia mengaku telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Provinsi NTT dan meminta adanya peningkatan infrastruktur pengairan guna mendukung ketahanan pangan masyarakat. Namun, hingga kini, permintaan tersebut disebut belum mendapatkan realisasi.

Menurut Umbu Juang, salah satu ruas irigasi yang sempat dikerjakan pada 2024 kembali mengalami patahan. Kerusakan terjadi pada bagian tembok saluran yang dinilai tidak mampu bertahan, sehingga aliran air kembali terganggu dan memperpanjang dampak kekeringan pada lahan persawahan di sepanjang jalur irigasi tersebut. Ia berharap perbaikan dilakukan secara menyeluruh dari bagian hulu hingga hilir agar persoalan pengairan tidak terus berulang.

Ia memperkirakan terdapat sekitar tiga hingga empat kilometer jaringan irigasi yang mengalami kerusakan. Selain ruas utama, kerusakan juga terjadi pada bagian pembagian dan sejumlah cabang saluran. Pada ruas primer, persoalan diperparah oleh sedimentasi akibat erosi dari kawasan perbukitan. Kondisi tersebut membuat permukaan saluran lebih rendah dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya sehingga menghambat kelancaran distribusi air ke areal persawahan masyarakat.

Tokoh masyarakat Bora Kaghohi mengatakan persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah provinsi, khususnya bidang pengairan. Menurutnya, pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi perlu segera dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat. Ia menyebut petani yang sebelumnya dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun kini dalam kondisi tertentu hanya mampu melakukan panen satu kali karena keterbatasan pasokan air.

Sumber air untuk jaringan irigasi tersebut berasal dari Bendungan Laiksininu yang juga menghadapi persoalan sedimentasi pada area penampungan. Sebagian kawasan bendungan disebut telah tertutup endapan, sehingga turut memengaruhi ketersediaan dan distribusi air ke lahan pertanian.

Masyarakat berharap pemerintah segera meningkatkan kondisi bendungan dan jaringan irigasi secara terpadu, mengingat Wanokaka merupakan salah satu wilayah penyumbang beras di daerah dan keberlangsungan produksi pertanian sangat bergantung pada ketersediaan sumber air. (Jl)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....