Kolaborasi Lintas Tokoh Dinilai Kunci Utama Kelestarian Savana Sumba

  • 08 Sep 2026 07:35 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kebakaran savana yang berulang setiap musim kemarau berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis jangka panjang di Pulau Sumba. Dampaknya tidak hanya menghilangkan vegetasi, tetapi juga dapat merusak struktur tanah dan mengganggu keseimbangan ekosistem savana.

Kepala Unit Ekologi Unika Weetabula, Bonefasius Bali Mema, mengatakan kebakaran berulang dapat membuat kondisi tanah semakin buruk jika tidak ditangani sejak dini. “Kalau misalnya sering terus terjadi kebakaran yang berulang-ulang, otomatis struktur tanah itu menjadi rusak,” ujar Bonefasius saat diwawancarai RRI Kupang, Jumat, 4 September 2026.

Menurut Bonefasius, kerusakan struktur tanah juga dapat berdampak terhadap keberadaan mikroorganisme yang berperan penting dalam menjaga kondisi tanah. “Mikroorganisme dalamnya tanah akan mudah jadi tandus,” katanya, saat membahas ancaman kebakaran terhadap ekosistem savana Sumba.

Kondisi tanah yang semakin tandus kemudian dapat meningkatkan risiko terjadinya erosi, terutama ketika musim hujan tiba setelah periode kemarau panjang. Bonefasius bahkan mengingatkan perubahan tersebut dapat mengancam bentang alam Sumba yang selama ini menjadi bagian penting ekosistem.

“Tanah yang gersang dan tandus itu bisa seperti itu? Bisa akan seperti itu nanti,” kata Bonefasius. Ia menegaskan kemungkinan dampak jika kebakaran savana terus berulang tanpa penanganan. Karena itu, pengelolaan savana perlu dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak secara berkelanjutan.

Bonefasius mendorong keterlibatan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, akademisi, serta peternak dalam membangun sistem pengelolaan savana yang lebih teratur. Salah satu langkah yang disarankan adalah menerapkan rotasi penggembalaan serta menyiapkan cadangan pakan ternak saat musim hujan.

Ia menilai ketergantungan peternak terhadap rumput savana perlu dikurangi agar pembakaran tidak terus menjadi pilihan memperoleh tunas rumput baru. “Savana Sumba ini menjadi ikon orang Sumba, menjadi warisan ekologis dan kultural,” ujar Bonefasius. Ia berharap agar kelestarian savana tetap terjaga bagi generasi mendatang. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....