GAMKI Ketuk Pintu Warga, Bawa Bantuan ke Korban Gempa di Ende

  • 01 Sep 2026 06:47 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah situasi pascagempa yang belum sepenuhnya pulih, masih ada keluarga di Kabupaten Ende yang harus menunggu bantuan datang. Sebagian rumah mereka terdampak, kebutuhan dasar mendesak, namun nama mereka belum masuk dalam daftar penerima bantuan.

Gambaran itu ditemukan tim GAMKI Peduli Flores ketika memilih turun langsung ke lapangan. Alih-alih menunggu warga datang ke posko, para relawan justru bergerak dari rumah ke rumah, mengetuk pintu, mendata kebutuhan, dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada keluarga yang membutuhkan.

Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) NTT bersama DPC GAMKI Ende, dengan dukungan DPP GAMKI dan Cartenz Technology, menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada 25 kepala keluarga (KK) terdampak gempa bumi di Kabupaten Ende. Sebanyak 15 KK berada di Kelurahan Lokoboko, sementara 10 KK lainnya merupakan keluarga terdampak di lingkungan pelayanan Jemaat GMIT Syalom Ende.

Penerima bantuan ditentukan melalui pendataan dan koordinasi bersama Badan Tanggap Bencana GMIT Syalom Ende. Cara ini dilakukan agar bantuan tidak sekadar dibagikan, tetapi benar-benar diarahkan kepada keluarga yang membutuhkan dukungan segera.

Distribusi bantuan dilakukan dengan pendekatan door-to-door. Satu per satu rumah keluarga terdampak didatangi.

Tim tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga melihat langsung kondisi warga setelah gempa dan mendengarkan kebutuhan yang mereka hadapi. Paket bantuan berisi kebutuhan pangan keluarga seperti beras, telur, minyak goreng, dan gula pasir.

Sementara keluarga yang memiliki anak balita mendapatkan tambahan kebutuhan berupa popok atau pampers. Bagi tim, cara ini penting. Sebab, dalam situasi bencana, tidak semua keluarga memiliki kemampuan atau kesempatan untuk datang ke lokasi pembagian bantuan.

Penyaluran dipimpin Koordinator Daerah VI GAMKI Flores-Lembata Eva Huma, didampingi Ketua DPC GAMKI Ende Pieter Th. Tonael, Wakil Ketua I Bobby Watik, Koordinator Seksi Tanggap Bencana Djibrael Kore, serta anggota tim Jeckson Lay.

Ada satu pengalaman yang kemudian menjadi catatan tersendiri bagi tim di Kelurahan Lokoboko. Sejumlah warga mengaku bahwa sejak gempa terjadi, GAMKI menjadi organisasi pertama yang datang langsung ke rumah mereka membawa bantuan.

Ucapan sederhana itu menggambarkan persoalan yang lebih besar: dalam penanganan bencana, tantangan bukan semata-mata soal seberapa banyak bantuan tersedia, tetapi juga bagaimana memastikan bantuan menemukan keluarga yang belum terjangkau.

Ketua DPC GAMKI Ende Pieter Th. Tonael mengatakan pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa distribusi bantuan pascabencana harus terus diperbaiki. “Kami tidak ingin bantuan hanya berhenti di tempat yang mudah dijangkau. Karena itu kami bersama teman-teman turun dan mendatangi warga dari rumah ke rumah. Bagi kami, yang terpenting bukan sekadar membawa paket bantuan, tetapi memastikan saudara-saudara kita mengetahui bahwa dalam keadaan seperti ini mereka tidak sendirian,” katanya.

Menurut Pieter, GAMKI sebagai organisasi kader pemuda Kristen memiliki panggilan untuk hadir di tengah masyarakat, terlebih ketika warga sedang menghadapi situasi sulit. Ia juga menilai pengalaman menemukan keluarga yang belum menerima bantuan harus menjadi

Kehadiran GAMKI Peduli Flores mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Lokoboko. Lurah Lokoboko, Andre, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada warga terdampak.

“Saya, Lurah Lokoboko, atas nama pemerintah dan warga masyarakat yang terdampak, menyampaikan limpah terima kasih kepada DPD GAMKI NTT melalui DPC GAMKI Ende yang berkenan hadir membantu warga masyarakat yang terdampak,” ujar Andre.

Ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan setelah bencana. “Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan kita berharap ke depan keadaan semakin pulih sehingga warga dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya menambahkan.

Bagi Ketua DPD GAMKI NTT Winston Neil Rondo, gerakan GAMKI Peduli Flores tidak boleh berhenti pada pembagian bantuan darurat. Sejak awal, gerakan tersebut diarahkan sebagai bentuk solidaritas yang bekerja berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.

Pengalaman di Ende, menurut Winston, menunjukkan bahwa pendataan penerima manfaat dan koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam penanganan bencana. Tanpa koordinasi yang baik, bantuan berpotensi menumpuk di satu lokasi, sementara keluarga lain justru terlewatkan. “Dalam bencana, persoalannya bukan hanya berapa banyak bantuan yang tersedia, tetapi apakah bantuan itu menemukan orang yang paling membutuhkannya,” kata Winston.

Ia mengapresiasi langkah GAMKI Ende dan Badan Tanggap Bencana GMIT Syalom Ende yang memilih turun langsung dan mencari keluarga yang belum terjangkau. “Karena itu saya mengapresiasi kawan-kawan GAMKI Ende dan Badan Tanggap Bencana GMIT Syalom Ende yang memilih turun, mengetuk pintu rumah warga dan mencari mereka yang mungkin belum terjangkau, ” ucapnya.

Winston menegaskan, perhatian terhadap masyarakat terdampak tidak boleh berakhir ketika fase tanggap darurat selesai. Kebutuhan kelompok rentan, pemulihan sosial, hingga pemulihan ekonomi keluarga harus menjadi bagian dari agenda berikutnya.

“Gempa merusak dalam hitungan detik, tetapi memulihkan kehidupan membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu solidaritas jangan selesai ketika masa tanggap darurat berakhir. Kita harus berjalan bersama masyarakat dari fase bertahan menuju fase bangkit,” ujar Winston.

Gerakan GAMKI Peduli Flores di Ende menjadi gambaran bahwa solidaritas tidak selalu harus hadir dalam bentuk bantuan besar. Kadang, solidaritas hadir dalam langkah sederhana: datang ke sebuah rumah, mengetuk pintu, bertanya apa yang dibutuhkan, lalu memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan keluarga yang sedang bertahan.

Di tengah puing, ketidakpastian, dan kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi, kehadiran itu memiliki arti penting bagi warga. Sebab dalam bencana, bantuan yang paling berarti tidak selalu yang paling besar. Kadang, bantuan paling berarti adalah bantuan yang akhirnya tiba di sebuah pintu yang terlalu lama menunggu diketuk. Flores terluka, tetapi Flores tidak sendiri. Dari Ende, solidaritas terus bergerak. (rls/DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....