Lomba Bertutur Perkuat Literasi Anak Kota Kupang
- 13 Agt 2026 10:13 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Sebanyak 75 siswa sekolah dasar dari 36 sekolah di Kota Kupang mengikuti Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kota Kupang, 11–13 Agustus 2026. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana mengukur kemampuan literasi dasar sekaligus menanamkan kecintaan terhadap cerita rakyat dan budaya daerah.
Lomba yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Kupang tersebut melibatkan siswa kelas 4 dan 5 SD. Peserta diberikan bahan bacaan berupa cerita rakyat untuk dibaca dan dipahami, kemudian diceritakan kembali menggunakan bahasa tutur mereka sendiri.
Ketua Panitia Lomba Bertutur yang juga Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Kupang, Erni Kelendonu, mengatakan peserta tidak dituntut menghafal cerita.
“Anak-anak membaca, kemudian menceritakan kembali sesuai dengan apa yang mereka pahami dari cerita itu,” ujar Erni.
Menurut Erni, kegiatan tersebut didanai melalui DAK Nonfisik pemerintah pusat dan dilaksanakan selama tiga hari. Setiap hari terdapat 25 peserta, sehingga total peserta mencapai 75 siswa.
Selain mengasah kemampuan literasi, lomba bertutur diarahkan untuk memperkenalkan dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap kekayaan budaya melalui cerita rakyat daerah.
Literasi Bukan Sekadar Kemampuan Membaca
Bunda Literasi Kota Kupang, dr. Widya Cahya, mengapresiasi pelaksanaan lomba tersebut. Ia menilai kegiatan bertutur dapat menjadi salah satu instrumen untuk melihat sejauh mana anak memahami bahan bacaan.
“Ini bukan hanya sekadar lomba. Kalau anak-anak bisa bertutur dengan baik, otomatis sebenarnya dia mengerti bahan bacaan,” kata Widya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat mendorong anak lebih banyak membaca, meningkatkan kompetensi literasi, dan dalam jangka panjang berkontribusi terhadap peningkatan indeks literasi.
Widya juga menekankan pentingnya menjaga budaya membaca di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut dia, AI dapat dimanfaatkan sebagai teknologi pendukung, tetapi tidak seharusnya menggantikan proses membaca dan memahami informasi secara utuh.
“Buku dan membaca itu fundamental. Kita tidak antipati dengan AI, tetapi budaya baca tetap menjadi fondasi,” ujarnya.
Siapkan Pojok Baca di Ruang Publik
Untuk memperluas akses literasi, Bunda Literasi Kota Kupang menyiapkan konsep kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah menghadirkan pojok baca di kawasan Car Free Day setiap Sabtu, sehingga anak-anak dapat memanfaatkan waktu beraktivitas di ruang publik untuk membaca.
Pojok baca tersebut nantinya diharapkan dilengkapi pendampingan guru. Pemerintah juga akan mendorong pengaktifan kembali perpustakaan-perpustakaan di tingkat kelurahan.
Widya berharap kolaborasi tersebut dapat segera direalisasikan agar budaya membaca tidak hanya dibangun melalui sekolah, tetapi juga melalui ruang-ruang publik dan lingkungan masyarakat.
“Teknologi kita manfaatkan, tetapi anak-anak tetap harus membaca. Karena membaca adalah fondasi,” katanya.
Bagi Widya, seluruh peserta lomba merupakan pemenang karena keberanian tampil merupakan bagian dari proses membangun kepercayaan diri dan kompetensi literasi.
Ia pun mengajak para peserta untuk terus membaca, memahami informasi, dan berani menyampaikan kembali apa yang telah mereka pelajari. (As)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....