Punya 20+ Varietas Kopi Lokal, NTT Dorong Kopi Fatuleu dan Lelogama Unjuk Gigi
- 12 Agt 2026 12:04 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan komoditas perkebunan yang sangat melimpah, salah satunya keberagaman jenis kopi. Tak banyak yang tahu, provinsi kepulauan ini memiliki lebih dari 20 varietas kopi lokal yang tersebar di berbagai daerah. Namun, sejauh ini baru dua daerah yang populer di panggung nasional, yakni Kopi Bajawa dan Kopi Manggarai.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penanggung Jawab Partnership & Sponsorship Komunitas Kopi NTT, Kevin Sena, bersama Pembina Komunitas Kopi NTT, Anthon Djawas, dalam siaran Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang bertajuk "Kopi NTT Naik Kelas" pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Kevin Sena mengungkapkan bahwa mendominasinya nama Kopi Bajawa dan Manggarai bukan berarti kopi dari daerah lain di NTT kalah secara kualitas rasa. Masalah utamanya terletak pada minimnya promosi dan ruang bagi varietas lokal lainnya untuk diperkenalkan.
"Daerah-daerah lain ini punya potensi luar biasa. Bukan karena cita rasanya kalah dari Bajawa atau Manggarai, tetapi selama ini mereka seperti tidak punya suara. Contohnya Kopi Fatuleu (Oelbiteno) di Kabupaten Kupang dan Kopi Lelogama. Keduanya memiliki profil rasa yang sangat unik namun belum banyak dikenal masyarakat," ujar Kevin.
Menurut Kevin, kopi merupakan "komoditas paling jujur" di mana setiap daerah penghasil memiliki karakter teritorial (terroir) dan vegetasi yang khas. Tidak ada kopi yang dianggap secara mutlak lebih enak dari yang lain. Kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya sendiri sesuai preferensi rasa masing-masing.
Untuk memberi panggung bagi varietas kopi yang belum populer, Komunitas Kopi NTT mengambil langkah strategis dengan mengusung Kopi Fatuleu dalam forum kerja sama internasional. Kopi asal Pulau Timor ini dihadirkan sebagai komoditas utama dalam kerja sama kolaborasi ekonomi antara Indonesia dan Timor Leste.
"Karena berada dalam satu daratan Pulau Timor, kita membawa Kopi Fatuleu sebagai simbol kolaborasi. Jika kita sebagai pelaku usaha dan komunitas tidak pernah memberikan ruang, masyarakat tidak akan pernah tahu bahwa daerah seperti Fatuleu punya komoditas kopi yang begitu bernilai," tegas Kevin.
Sementara itu, Pembina Komunitas Kopi NTT, Anthon Djawas, menekankan pentingnya peran aktif komunitas dalam mengenalkan kekayaan varietas kopi lokal ke masyarakat luas, khususnya penikmat kopi di kawasan perkotaan.
Melalui program-program seperti Brew Bagi (pembagian kopi gratis tiap bulan di Car Free Day) serta sesi cupping (uji cita rasa), komunitas secara konsisten mengenalkan profil rasa kopi dari berbagai sudut wilayah NTT.
"Kami ingin membangun branding yang kuat untuk seluruh kopi di NTT, bukan hanya satu atau dua daerah. Dengan memperkenalkan ragam varietas lokal, kita tidak hanya memperkaya pilihan bagi penikmat kopi, tetapi juga mengangkat perekonomian para petani di daerah-daerah pelosok NTT," ujar Anthon. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....