Indonesia Peringkat Kedua Kasus TB Dunia, Skrining Jadi Langkah Utama

  • 07 Agt 2026 01:14 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang— Indonesia saat ini masih menduduki peringkat kedua dunia dengan kasus Tuberkulosis (TB) tertinggi, yakni menyumbang sekitar 1,09 juta kasus baru per tahun. Dari angka tersebut, lebih dari 135 ribu kasus menyerang anak-anak usia 0–14 tahun, dan disinyalir masih banyak kasus di lapangan yang belum terdiagnosis secara optimal.

Menanggapi beban kesehatan nasional tersebut, Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dr. Azaria Amelia Adam, Sp.A., M.Biomed, menyoroti fakta bahwa anak sebenarnya bukanlah sumber utama penularan TB. Sebaliknya, anak adalah pihak yang tertular (victim) dari lingkungan terdekatnya.

"Anak tidak membatukkan kuman ke mana-mana seperti orang dewasa. Ketika ada anak yang terdiagnosis positif TB, kewajiban kita adalah mencari siapa orang dewasa di rumah atau lingkungannya yang menularkan kuman tersebut," tegas dr. Azaria saat menghadiri obrolan kesehatan di RRI Pro 4 Kupang, Rabu 5 Agustus 2026.

Sering kali penularan berasal dari anggota keluarga dewasa, seperti kakek, nenek, orang tua, atau pengasuh, yang mengalami batuk kronis namun menganggapnya sekadar batuk perokok atau flu biasa. Untuk memutus mata rantai penularan dan menekan angka stunting akibat infeksi kronis TB, dr. Azaria menekankan pentingnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan masyarakat.

Adapun tindakan cepat yang dapat dilakukan adalah skrining kontak serumah. Jika ada satu anggota keluarga yang terkonfirmasi TB, seluruh penghuni rumah (termasuk anak-anak) wajib menjalani pemeriksaan skrining di Puskesmas.

Langkah selanjutnya adalah Pemberian Terapi Pencegahan TB (TPT). Bagi anak yang tinggal serumah dengan penderita TB namun belum menunjukkan gejala berat, perlu diberikan terapi pencegahan agar kuman laten dalam tubuh tidak aktif.

Selain itu juga diperlukan penguatan skrining sekolah dan posyandu. Kolaborasi antara puskesmas, kader Posyandu, dan tim Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) harus diperkuat tanpa perlu memunculkan stigma negatif terhadap keluarga yang diperiksa.

"Penemuan kasus TB yang tinggi melalui skrining aktif sejatinya bukan kabar buruk, melainkan langkah awal menuju eliminasi TB. Semakin cepat kita deteksi dan obati, semakin cepat anak-anak terbebas dari ancaman stunting menuju Indonesia Emas 2045," tutup dr. Azaria. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....