Mutiara Pagi: Menjadi Murid Kristus yang Otentik

  • 04 Agt 2026 10:07 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Budaya pencitraan yang semakin kuat di era digital dinilai menjadi tantangan serius bagi kehidupan iman umat Kristiani. Penampilan, popularitas, dan pengakuan dari orang lain kini kerap dijadikan ukuran keberhasilan, sementara karakter, integritas, dan ketulusan hati justru mulai terabaikan. Kondisi tersebut menuntut setiap orang beriman untuk kembali menempatkan nilai-nilai Injil sebagai dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam program Mutiara Pagi RRI Kupang Kamis, 30 Juli 2026 Penyuluh Agama Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Marselinus Elias Seso, S.Fil, mengangkat tema "Menjadi Murid Kristus yang Otentik di Tengah Dunia yang Penuh Pencitraan." Ia mengatakan, masyarakat saat ini hidup di zaman ketika penampilan sering kali lebih dihargai daripada karakter. Melalui media sosial, seseorang dapat dengan mudah menampilkan sisi terbaik kehidupannya, sementara kelemahan dan pergumulan disembunyikan sehingga ukuran keberhasilan lebih ditentukan oleh bagaimana seseorang terlihat di mata orang lain.

Menurut Marselinus, budaya pencitraan tersebut tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga kehidupan iman. Ia mengingatkan bahwa seseorang dapat terlihat religius di hadapan banyak orang, namun belum tentu memiliki kedekatan yang sejati dengan Tuhan. Karena itu, Injil mengajak umat untuk melihat diri dari sudut pandang yang berbeda, yakni membangun relasi yang tulus dengan Allah, bukan sekadar membangun citra di hadapan manusia.

Ia menjelaskan, melalui Injil Matius 13:47-53 tentang perumpamaan pukat, Yesus mengajarkan bahwa Allah tidak pernah tertipu oleh penampilan luar. Tuhan melihat hati, integritas, dan kesetiaan seseorang dalam menghidupi iman setiap hari. Menurutnya, menjadi murid Kristus bukan hanya mengenakan identitas sebagai orang Katolik atau aktif dalam berbagai pelayanan gereja, melainkan membiarkan Injil membentuk seluruh cara hidup.

Untuk memperjelas pesannya, Marselinus mengisahkan sebuah cerita tentang dua buah apel. Sebuah apel yang tampak paling sempurna ternyata busuk di bagian dalam, sedangkan apel yang kulitnya biasa saja justru segar dan manis. Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh penampilan luar, tetapi oleh isi hati dan karakter yang dimilikinya. Ia menilai kondisi serupa banyak terjadi di era media sosial ketika orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa menjadi anggota Gereja, menerima sakramen, maupun aktif dalam pelayanan bukanlah jaminan keselamatan apabila tidak diwujudkan melalui kasih, kejujuran, kerendahan hati, pengampunan, dan kepedulian kepada sesama. Tuhan, katanya, tidak menilai seseorang dari popularitas, jabatan, maupun unggahan di media sosial, melainkan dari kesetiaan menghidupi Injil dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat.

Mengakhiri renungannya, Marselinus mengajak umat untuk menjadi murid Kristus yang autentik dengan menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan nyata. Ia menekankan bahwa dunia saat ini bukan kekurangan orang yang pandai berbicara tentang iman, tetapi kekurangan orang yang benar-benar menghidupi imannya. Menurutnya, warisan terbesar yang dapat ditinggalkan setiap orang bukanlah citra atau popularitas, melainkan jejak kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Kristus yang menjadi kesaksian nyata bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....